Aku merindumu Ayah

Semua tentangmu hanyalah nisan, Ayah.



Apakah rindu ini harus menuntut perwujudannya?. Aku tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya, ketika aku mengenal dunia aku sudah seperti ini. Tidak ada tangan ayah yang memanjakanku, aku juga ingin seperti mereka yang setiap detiknya memanggil nama dengan sebutan ayah. Hal yang membuatku tidak siap bahkan tidak sempat mendengar isyarat bahwa aku memang benar-benar tidak diinginkan melihat dunia ini. Hal ini tiba-tiba terjadi begitu saja, sel itu tiba-tiba saja bersarang di rahim ibuku, aku pun tidak tau itu. Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana menghadapinya? Entah apa komentar orang-orang nantinya?. Jangankan berjumpa wajah dengannya yang aku rindu, satu atau dua kata nama saja tidak pernah aku dengar dari bibir manis ibuku untuk mengatakan dari benih siapa aku tumbuh. Terkadang persoalan hidup membawaku pada kelelahan dan putus asa, bahasa itu menggambarkan bahwa ibuku hanya seorang pelarian dari kenyataan, terlebih hidupku sendiri. Tidak bisa dipungkiri, itu wajar saja, manusia di ciptakan dengan memangku cerita, air mata, petualangan hidup yang kadang menantang dengan dinamika yang berbeda-beda oleh sang waktu. Aku juga berharap kerinduan dan harapan yang membelenggu bisa dikikis oleh sang waktu layaknya tatapan yang menghantar kepergian senja di setiap penghujungnya. Rindu, ingin, dan cemburu adalah alasan mengapa aku sempat meneteskan air mata dalam persembunyianku, layaknya anak komedi yang harus tertawa lebar di depan layar dan kemudian membungkus rindu dan menyuarakan isak tangis di belakang layar. Sia-sia memang jika harus menuntut ketuntasannya, sebab bagi tuan muda (Ayah) ini bukanlah hutang yang harus dibayar. Nama yang belum aku kenal bahkan kenangan belum sempat aku pahami yang terpatri sebelum kehupanku kini menjadi sebuah rindu yang berakar tunggal meramba pada setiap sel-sel yang ada dalam tubuhku. 
Hari ini tidak seperti biasanya, perempuan itu menghampiriku, aku biasa menyebutnya dengan panggilan bunda. Waktu yang tepat untuk memulai drama, aku harus kembali membungkus kesedihan dengan senyuman. Aku paham bahwa ibuku sudah terlebih dahulu menanggung sakit yang aku rasakan, hampir 10 tahun lamanya, mungkin, karena seingatku tidak pernah ada pemuda atau pun orang tua yang datang menemuinya, kadang pertanyaan pahit dari bibirku ingin sesekali aku lontar kan, aku anak siapa? Harus pada siapa aku meminta restu sosok ayah ketika menikah kelak?.Tapi dengan derita yang berbungkus pada wajahnya membuatku tak tega. Aku tahu ibuku hanya korban yang harus menanggung dosa seorang diri padahal aku paham di dalam dosa itu terdapat dosa pemuda yang tidak pernah punya hati. 
Suasana mejadi riuh, seketika berkabung mencekam jiwa, kala ibuku mendengar kabar duka. Aku tidak paham dengan keadaan ini, yang aku tahu selama ini aku tidak pernah mendengar kabar duka, sesekali aku bertanya, “ada apa Bunda?”. Siapa yang berduka?. Seakan alam berkabung dalam kisah sedih manusia, di usia 9 tahun aku baru tahu bahwa duka ternyata juga menciptakan kesedihan yang menumpahkan bulir air mata pada katup bibir yang berbeda. Ternyata ada derita yang lebih dalam dari deritaku, yaitu duka kematian. Beberapa menit kemudian aku belum paham siapa yang meninggal, susana yang aku lihat hanya ibuku sesekali mengusap air matanya tanpa berkata apa pun kepadaku.
Aku dan ibuku bergegas pergi, sampai detik ini pun aku tidak paham hendak kemana, aku melihat ibuku sesekali membuka gawainya tanpa menyetop tangisnya, aku yang tidak tahu apa-apa terpancing untuk meneteskan air mata. Melihat perempuan yang aku kenal sangat kuat kini meledakkan tangisannya seolah itu adalah airmata hasil investasi selama 10 tahun. Aku tiba di suatu tempat yang begitu asing, rumah dengan cat putih di dalamnya ada foto keluarga menjadi pajangan, keluarga yang sempurna. Foto itu menujukkan bahwa keluarga ini adalah keluarga yang lengkap potret yang menujukkan adanya sosok ayah, ibu dan anak, itulah yang menjadi cita-cita terbesar dalam hidupku, memiliki foto keluarga yang di dalamnya terdapat potret ayah. Berbeda dengan kenyataan, di dalam rumah mewah ini aku tidak medengar tawa, canda orang tua dan anak, aku hanya melihat gulungan yang berbungkus kain kafan dan seorang ibu dan anak menyaksikan bungkusan tersebut, aku semakin tidak mengerti kenapa keluarga lengkap tidak menghadirkan tawa sedikit pun, ibuku pun yang berada di sampingku kini berubah menjadi bisu dengan isakan tangisnya. Adakah kisah yang terlalu sedih untuk didengar? Itu tanyaku. Aku tak bisa mendengar apa-apa untuk menjawab pertanyaanku, suara ratapan tangisan adalah satu-satunya suara yang bisa terdengar jelas. Tangisan-tangisan itu memekik tak tertahankan berisi bahasa yang terdalam, aku semakin bingung, kenapa ibu juga ikut-ikutan menangis, apa yang mesti ditangisi, perayaan tangis apa yang belum aku ketahui, apakah ini adalah sebuah pesta tangis? Aku hanya mampu menoleh kiri-kanan, sesekali aku melihat potret yang menempel di dalam rumah ini, semuanya menunjukkan kemewahan, lantas apa yang harus ditangisi. Seketika satu persatu orang-orang berdatangan dengan membawa amplop di tangan mereka. Mereka berdatangan mencari sumber tangisan. Aku semakin tidak mengerti, mungkin mereka datang karena panggilan hati, toleransi, atau rasa empati sebagai mahluk yang sudah melekat dalam diri manusia, aku berfikir iya, tapi tidak dengan laki-laki yang mencampakkan ibuku 10 tahun lalu. Hari ini semua orang meneteskan air mata mengambil bagian dalam kisah ini, termasuk diriku yang masih belum paham akan tujuan pesta ini. Aku kembali memerhatikan seorang ibu yang dari wajahnya mengindikasikan hatinya sangat terluka sedih menangis dalam lara. Seolah sebuah kenyataan yang benar-benar nyata terjadi, membuat sang ibu rapuh dan duka menonton tontonan yang tidak aku pahami sama sekali, tontonan itu hanyalah gulungan yang berbungkus kain kafan. Ibu itu merangkul anak-anaknya dalam cinta disertai cucuran air mata. Dalam pelukannya ada seorang anak yang seumuran denganku yang mungkin juga tidak tahu dengan kisah yang sedang terjadi, anak itu mengelus lembut pipi ibunya dengan tangan kecil nan mungil, matanya seakan bercerita ketika memandangi gulungan kain kafan tersebut. Sesekali aku mendengar, sebutan ayah, namun sampai detik ini aku belum paham, aku menengok ibuku yang juga ikut menyaksikan tontonan itu. Anak itu kembali berkata dengan mengoyangkan bungkusan kain kafan,
Ayah....apakah engkau marah? Ataukah bahagia? Mengapa orang-orang, ibu, nenek, kakek, menangisimu saat engkau tertidur lelap? Kenapa engkau tidak bangun untuk menggendongku, kenapa engkau menggunakan selimut ini, selimut ini sangat tipis dan engkau akan kedinginan, kenapa engkau tidak tidur di ranjang bersamaku, pasti engkau akan sangat terganggu mendengar tangisan orang-orang yang ada di rumah kita, kenapa Ayah?. Semua orang semakin menyorakkan tangisannya kala melihat ratapan anak kecil itu. Aku baru paham, ternyata gadis itu ditinggal tidur oleh Ayahnya. 
Aku kembali melihat ibuku, karena dalam rumah mulai berdesakan aku dan ibuku menuju keluar, di luar sudah terdapat tenda. Hari semakin merangkak maju. Aku melihat orang-orang tengah sibuk mempersiapkan papan dengan ukiran yang indah bertuliskan nama dengan dua kata, yah nama orang laki-laki. Tangan ku tanpa sengaja mengarah pada pipi ibuku yang sembab, aku duduk dipangkuan ibuku dan juga merasakan kepedihan yang dirasakan olehnya, sesekali aku bertanya, ”Bunda kenapa?, siapa orang-orang ini bunda?, pesta apa ini?, kenapa teman-teman ku tidak ada di sini?, kita di mana Bunda?, kenapa tidak ada yang menyapaku di sini?, tempat ini sangat asing buatku. Aku memerhatikan ibuku, seolah menjawab pertanyaanku namun masih ragu memulai dari mana. Aku berusaha bersabar untuk itu, semenit berlalu ibuku mulai menggerakkan bibirnya, diawali dengan memeluk tubuhku, aku semakin bertanya-tanya, ada apa?, kenapa membawaku kesini Bunda?. Kata yang pertama keluar dari mulut ibuku adalah “sabarlah nak”, aku tidak tahu makna kata itu, kenapa kata itu dilontarkan di sini, aku semakin tidak paham. Ibuku kembali melanjutkan ceritanya, ibuku menyebutkan nama, dan nama itu tertulis pada papan yang tadi dipersiapkan oleh beberapa orang, aku semakin penasaran ada apa sebenarnya, aku menuruti perintah ibuku dengan bersabar, ya bersabar menunggu ibuku melanjutkan ceritanya, apakah ini jawaban dari pertanyaanku hari ini ataukah ada rahasia yang terdalam yang terencanakan pada sebelum aku ada, ataukah...ataukah.....ada yang lain yang aku harus tau sekarang ini.
“maafkan Bunda nak, bunda menyayangimu, bunda tidak ingin melihatmu menangis,”. Aku semakin tidak mengerti arah pembicaraan ibuku, mungkin ibuku belum begitu hafal akan naskah drama yang akan di lakonkah ataukah ada hal lain, rasa penasaranku memaksaku mengucapkan satu pertanyaan, “nama siapa yang Bunda sebutkan tadi, nama itu tertulis pada papan yang diukir oleh orang-orang yang berlalu lalang disini?”. 
Tanpa nada ibuku menyebutkan bahwa itu adalah nama ayahku, aku diam sejenak, aku tidak mengerti kisah ini, kenapa pertemuanku dengan ayahku harus diringi pesta tangis air mata, aku tidak paham, seharusnya aku berbahagia karena akan berjumpa dengan ayahku, kenapa ibuku menangis, kenapa orang-orang menangis, kenapa bumi seolah menangis, apa yang salah dengan pertemuan seorang anak yang menyimpan rindu yang sudah berakar pada sel-sel tubuhnya, apa yang salah dengan cita-cita seorang anak yang ingin memeiliki potret bahagia dengan keluarga lengkap yang akan dipajang pada dinding rumahnya, apa yang salah?, aku kembali bertanya, “di mana ayahku Bunda”? Hari ini di usia 10 tahun aku baru melantangkan suara ku dengan kata Ayah, dalam benakku aku sangat bahagia karena aku sudah tau nama dan bahkan berkesempatan untuk menatap wajah ayahku, kekecewaanku sirna seketika, pemuda yang sebelumnya aku anggap pecundang tanpa empati itu sudah tidak ada, aku hanya ingin menebus rindu dengan nya, ingin digendong bahkan dimanjakan olehnya, apakah dia tampan, ataukah dia lebih tanpan. 
Aku memaksa ibuku dengan menarik tangannya untuk membawaku pada penebus rindu ku. Akan kutunaikan rindu itu segera. Aku melihat ibuku tidak bahagia, tapi kenapa? Padahal aku sangat bahagia. Ibuku berjalan ke tengah keramaian seolah menjadi pemeran utama dalam sebuah drama, perempuan itu disaksikan oleh banyak orang, suasana kembali hening layaknya tengah malam, isak tangis yang menggema sekarang sudah beralih pada sunyi. Ibuku meminta maaf kepada seorang ibu yang menjadi penonton kain gulungan kain kafan tersebut, aku semakin tidak mengerti, aku kembali bertanya “di mana Ayahku Bunda?”, tatapan orang-orang di sekitarku sangat tajam, aku paham mereka mengejekku dengan tatapan tersebut, aku tau, aku adalah anak tanpa pertanggung jawaban seorang ayah, aku tau itu sudah lama, tapi detik ini aku tidak memerhatikan itu lagi, aku hanya ingin melihat ayah, apakah ayah bahagia bertemu dengan ku, aku ingin bercerita semua kisahku kepada ayah, aku ingin pulang bersama ayah dan bunda, aku ingin memperlihatkan ayah pada kawan-kawan yang sering mengejekku dengan sebutan anak haram. 
Ibuku membuka bungkusan kain kafan dengan lembut, di dalam bungkusan itu aku melihat seorang laki-laki yang seumuran dengan ibuku, laki-laki dengan wajah tampan, pucat, kaku. Aku tidak mengerti, tangis ibuku meledak mempersilahkanku untuk menyentuh laki-laki itu, tanpa bertanya aku melakukan apa yang diperintahkan ibuku, sekarang aku mengerti laki-laki yang tidur lelap itu adalah ayahku, kenapa ayahku tidak bangun ketika aku datang, kenapa ayahku tidak berbahagia denganku, apakah dia tidak merindukanku?. Aku menatap ibuku, ibuku memelukku, aku semakin tidak mengerti dengan semua ini,
“Ayah, bangun ayah, aku ingin di gendong olehmu, aku melihat ibu sudah sangat lelah untuk mengendongku, ayo ayah bangun!!, ibuku menangis dan aku ikut menangis melihat ayah tidur, orang-orang menangis ayah, ibuku memintaku untuk bersabar, kenapa aku harus bersabar, apakah ada yang akan menyakitiku, apakah ayah tidak bisa melindungiku seperti ayah yang lain. Setelah beberapa menit berlalu kain kafan itu kembali menutupi ayah, iya ayah, kata ayah sekarang sudah tidak asing lagi bagiku, aku tidak ingin membangunkan ayah, ayah sangat terlihat kelelahan, dia pucat, mungkin dia lelap sampai-sampai dia tak mendengar tangisan orang-orang berlalu lalang disekitarnya. Aku melihat ayah diangkat oleh beberapa orang, ayah dimandikan, di dalam pelukan ibuku aku bertanya kenapa ayah tidak mandi sendiri Bunda?, ibuku hanya diam dan mengelus kepalaku sesekali mengecup keningku. 
Hari semakin merangkak maju, ayah belum juga bangun untuk bercerita denganku dan memberi penjelasan tentang drama ini, ayah diletakkan diatas papan yang telah disediakan, kemudian dibawa pada tanah lapang, dan banyak orang yang mengiringinya, aku memerhatikan itu semua, ada lubang yang sangat sempit yang masih digali oleh beberapa orang, tidak lama kemudian ayah dimasukkan pada lubang itu. Kenapa ayah dimasukkan pada lubang yang sangat sempit, kenapa ayah ditanam oleh orang-orang layaknya bunga kamboja yang ada di depan rumahku, kenapa papan yang berukiran nama ayah itu dilatakkan di atas timbunan itu??, terus mana ayah? Tanyaku pada ibu ketika ibu mulai membalikkan badan untuk melaju pergi dari tanah lapang tersebut. Ibu belum menjawab pertanyaanku, mana ayah? Tanyaku lagi, kenapa ayah tidak ikut dengan kita, apakah ayah membenciku, ataukah ayah seperti orang lain menganggapku hina, mana ayah ibu, aku ingin digendong oleh ayah, itu pintaku, namun ibu tidak mampu berkata apa-apa. 
8 tahun berlalu aku memahami bahwa kisah itu adalah kisah dimana aku kali pertama dan kali terakhir berjumpa dengan sosok raja dalam hidupku (ayah), ayahku sangat tampan, ia, dia tampan, aku paham bahwa tidak selamanya pernikahan, dan keluarga lengkap itu harus menyakiti salah satu hati yang tidak berdosa. Ayahku memilih tidak bersamaku dengan ibu mungkin memiliki alasan yang benar-benar terbaik dalam peradaban hidup ini. Dia (Ayah) bukan yang ku benci. Untuk rindu yang sekarang bersarang, bersabarlah aku akan tunaikan pada kehidupan setelah ini. Untukmu ayah, aku merindukanmu, meski sekarang semua tentangmu hanyalah nisan.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pulau Saur

Sinopsis Mati Sunyi. Cok Sawitri

Resume Manusia Sebagai Mahluk Otonom