Resume Manusia Sebagai Mahluk Sosial



السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

MANUSIA SEBAGAI MAHLUK SOSIAL

Dalam hal pergaulan hidup bermasyarakat, Islam  banyak sekali memberikan petunjuk, tuntunan, bimbingan dalam menciptakan suasana kehidupan yang aman, tentram, bahagia, damai dan sejahtera. Untuk ini antara lain Islam melarang adanya perbuatan-perbuatan yang dapat mendatangkan kerugian baik bagi dirinya sendiri, lebih-lebih bagi kerugian orang lain.

Sabda Nabi Muhammad saw
:
Artinya : Tidak boleh mendatangkan kerugian (bagi yang lain) dan tidak boleh membuat kerugian pada bagi dirinya sendiri (HR Ibnu Majah).


Pada dasarnya, kewajiban manusia sebagai makhluk sosial adalah sebagai berikut :

1. Menghilangkan gangguan-gangguan pada diri sendiri.

Setiap individu manusia hendaknya selalu berusaha agar tidak suka untuk melakukan fitnah, berdusta, menghinakan dan merendahkan oranglain. Selain itu, harus berusaha agar jangan sampai berbuat yang merugikan orang lain. Suatu contoh misalnya : merusak tanaman, membunuh atau melukai binatang peliharaan tanpa alasan dan sebab, mengambil barang milik orang lain dengan jalan yang tidak sah dan benar

2. Berlaku baik terhadap orang lain.

Setiap orang islam harus berusaha agar dapat berbuat baik pada orang lain, sekalipun orang itu buruk perangai atau sikapnya.

Dalam dalil hadits Nabi dijelaskan :


Artinya : Sesungguhnya di atara seburuk-buruk manusia ialah orang yang ditinggalkan orang lain karena kejahatannya, (HR. Bukhari-Muslim)

Islam mengajarkan perihal pencapaian kesejahteraan dan perdamaian dalam hidup bermasyarakat baik antara perorangan maupun secara berkelompok. Oleh sebab itu orang Islam harus mampu menjadi pelopor dalam pembinaan perdamaian yang menuju ketentraman bagi masyarakat.

Dalam hadits Nabi diriwayatkan :

Artinya : hindarilah prasangka, karena prasangka itu adalah berita yang paling bohong. Jangan saling mencari keburukan-keburukan orang, jangan suka mengorek-korek rahasia orang lain, jangan saling menyaingi, dan jangan saling membenci, dan jangan saling marah dan jangan saling acuh tak acuh, Jadilah kamu semua sebagai hamba Allah yang bersaudara. (HR. Bukhari-Muslim)
Kemudian pada akhir dari hadits ini, dijelaskan :

Artinya : Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan hartamu. Tetapi Allah melihat pada hati dan amalmu.

Dari keterangan hadits di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa, ketentraman hidup bermasyarakat itu didorong oleh hati yang baik dan amal yang baik pula. Maka dalam hal ini yang dipandang oleh Allah bukanlah dari segi rupa atau harta dan wajah, tetapi yang dipandang dan diperhitungkan adalah justru hati dan amaliahnya.

Tujuan Hidup Manusia Menurut Islam
Hidup menurut konsep islam bukan hanya kehidupan duniawi semata, tetapi berkelanjutan sampai pada kehidupan ukhrowi (alam akherta).  Dan apa yang kita lakukan selama di dunia, maka itulah yang akan kita petik di akherat nanti.
Hidup di dunia ini merupakan terminal dari perjalanan kehidupan manusia yang panjang, mulai dari alam arwah, alam arham, alam dunia, alam barzakh dan berakhir di alam akherat. Dan untuk bisa berakhir dengan happy ending salah satunya adalah dengan mendapat ridho dari Allah SWT. Dan inilah yang menjadi tujuan hidup manusia yaitu mencari ridho Allah SWT. yang direalisasikan dalam bentuk perjuangan menjalankan tugas dan fungsi gandanya tersebut.
Hubungan dengan manusia ( Hablumminannas ) sangat ditekankan dalam agama bila mengerti dan faham. Karena manusia dicipta Allah sebagai makhluk sosial, artinya makhluk yang saling berhubungan, saling butuh membutuhkan, tidak akan dapat hidup normal tanpa bergaul dengan sesama.

HABLUMMINALLAH
Bermacam tipe manusia dalam kehidupan, ada yang hanya khusyu’ dengan menghususkan dirinya berhubungan dengan Allah saja. Sholat dilakukan tepat pada waktunya, selalu berjamaah, wiridannya lengkap, doanyapun panjang pula, bahkan ketika menuju ke masjid jalannya selalu menunduk tanpa menyapa. 
Terkesan seolah tak peduli dengan orang disekitarnya, yang melihat merasa aneh dan heran, seakan ia tak butuh sama orang. 
Para tetangga dianggap remeh dan tak diperdulikan karena tidak pernah ke masjid, bagi dia yang penting khusyu’ dan menyambung hubungan dengan Allah saja.
Para tetangga yang melihat jadi tambah kurang simpatik karena terkesan angkuh dan menyepelehkan, mereka semua sama bergumam : “ Lha kalau dia mati siapa yang akan mengantar kekuburan, apa ya jalan sendirian ?! ”.

HABLUMMINANNAS
Disisi lain bahkan ada yang hanya mementingkan hubungan dengan manusia saja, tanpa memperdulikan hubungan dengan Allah. 
Buat dia yang penting baik dengan sesama, baik sama semua orang, suka membantu, suka menolong, bila ada tetangga yang sakit sangat aktif menjenguk, bahkan ikut menggerakkan para tetangga untuk mencari bantuan guna memperingan beban. 
Bila ada tetangga punya gawe, ringan tangan, sangat aktif menghadiri undangan, bahkan ikut memberi bantuan. Sangat peduli pada tetangga yang kesusahan, sehingga para tetangga sangat simpatik dan suka padanya. Buat dia yang penting hatinya baik walau tidak beribadah kepada Allah.
Namun rupanya ia lupa bahwa kehadiran dirinya didunia, sehingga dapat hidup sempurna adalah berkat pertolongan, kemurahan dan kekuasaan Allah semata.

HABLUMMINALLAH WAHABLUMMINANNAS
Oleh karena itu kita di peringatkan, agar selalu berhubungan dengan Allah dan berhubungan dengan manusia, karena kita meruapakn mahluk sosial. Seorang hamba dengan Tuhannya bisa melakukan yang namanya bisnis, adapun bisnis hamba dengan Allah  adalah sebagai berikut:
1. Hubungan Penghambaan :
Hubungan penghambaan ini harus disadari dan difahami dengan benar oleh seorang hamba karena menyangkut eksistensi manusia di bumi. Seorang hamba harus menyadari bahwa keberadaannya di muka bumi ini adalah untuk menghamba, mengabdi,  dan beribadah kepada Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Adz-Dzaariyaat ayat 56 : “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”.
Dengan menyadari adanya hubungan penghambaan ini, maka seorang hamba akan menempatkan dirinya benar-benar sebagai seorang hamba yang wajib  untuk mengabdi, beribadah, dan menghamba kepada-Nya. Dengan kesadaran demikian, maka seorang amal-amal ibadah seorang hamba akan lebih berkualitas karena didasari oleh keikhlasan penghambaan tersebut.
 2. Hubungan Cinta Kasih :
Hubungan antara hamba dengan Allah SWT juga berbentuk hubungan cinta kasih. Sudah dapat dipastikan bahwa Allah SWT sangat mencintai hamba-Nya dengan menyediakan nikmat dan rezeki yang Dia tebarkan kepada seluruh makhluk-Nya di muka bumi ini.
Sementara itu di lain pihak,  kecintaan manusia sebagai hamba kepada-Nya merupakan sesuatu yang diragukan dan karena itu Allah SWT berfirman di dalam QS At-Taubah ayat 24 : ” Katakanlah : ‘Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.”
Demikian juga di dalam QS Al-Baqarah Allah SWT berfirman : “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).
3. Hubungan Perniagaan
Hubungan hamba dengan Allah SWT bisa berbentuk hubungan perniagaan atau bisnis (bahkan KH Dr. Quraish Shihab menulis buku-buku yang berjudul “Berbisnis dengan Allah” dan “Bisnis Sukses Dunia dan Akhirat”) . Dalam perniagaan atau jual beli (tijaroh) ada penjual dan pembeli. Dalam hubungan ini, maka seorang hamba adalah seorang penjual yang rela melepasakan atau meneyrahkan jiwa dan hartanya dan Allah akan membelinya dengan sesuatu yang sangat bernilai.
Allah berfirman di dalam QS At-Taubah ayat 111 : “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.
Dengan menyadari bahwa sang Maha Pencipta sangat mencintai hamba-Nya maka seorang hamba akan lebih meningkatkan kualitas amal ibadahnya disebabkan kesyukurannya kepada Allah SWT dan meyakini bahwa Allah SWT akan membeli pengorbanannya dengan harga yang berlipat yaitu berupa surga yang dijanjikan-Nya …
4. Hubungan Kerja (Amal)
Hubungan hamba dengan Allah SWT bisa berbentuk hubungan kerja atau amal yang menurut bahasa Al-Quran disebut dengan amal shalih. Allah SWT mengaskan bahwa amal shalih yang dilakukan seorang hamba akan membawa hamba kepada perjumpaan dengan Allah SWT.
QS Al-Kahfi ayat 110 : “Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.

Comments

Popular posts from this blog

Pulau Saur

Sinopsis Mati Sunyi. Cok Sawitri

Resume Manusia Sebagai Mahluk Otonom