Resume Manusia Mahkluk Moral
MANUSIA MAKHLUK MORAL
Perwujudan
Moral Dalam Kehidupan
Manusia sebagai mahluk moral adalah
manusia yang memililki akhlak. Agama menjadi sumber dari akhlak yang mulia,
maka salah satu jalan untuk menegakkan akhlak ini prinsip-prinsip agama harus
dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam mewujudkan nilai-nilai
moral/akhlak yang mulia ada beberapa kewajiban yang perlu ditunaikan:
- 1.Membersihkan hati serta mensucikan hubungan dengan Allah SWT. Keyakinan semacam ini harus tertanam dalam hati, dikerjakan dan diamalkan serta disampaikan pada orang lain. Kesucian hatinya nampak dalam perilakunya sehari-hari dan menyatakan bahwa yang baik itu adalah yang diakui baik oleh Islam, sedang yang buruk adalah yang dinyatakan oleh Islam buruk pula.
- Memperhatikan seluruh perintah dan larangan agama. Karena percuma beragama kalau tidak diiringi amal. Banyak orang mengaku beragama Islam, tetapi tidak dikerjakannya seruhan agama atau tidak dihentikannya semua larangan. Orang yang demikian selamanya tidaklah merasakan kelezatan cinta menjadi seorang Muslim.
- Belajar melawan kehendak diri dan menaklukkannya kepada kehendak Allah SWT. Pekerjaan ini amat berat dan sulit, hanya orang-orang yang mempunyai kemauan teguh dan hati yang sabar serta tahan yang dapat mengerjakannya. Nabi Muhammad bersabda, “Bahwa peperangan di antara akal dan hawa nafsu, di antara seruan kebenaran dengan suara setan. Lebih besar daripada segala macam peperangan di dalam dunia ini.” Setelah beliau kembali dari peperangan sekecil-kecilnya, kepada peperangan yang sebesar-besarnya yakni peperangan memerangi hawa nafsu.
- Setelah sanggup berjuang melawan hawa nafsu sendiri, harus sanggup berjuang dengan musuh-musuh yang hendak menghinakan agama atau melanggar batas-batas keyakinanya.
- Menegakkan persaudaraan di dalam Islam, bertolong-tolongan di antara sesama muslim.
- Agama Islam adalah agama kemanusiaan, manfaatnya tidaklah dirasakan oleh umat Islam saja, tetapi oleh seluruh umat manusia. Kedatangan Islam telah membawa nikmat dan rahmat ke seluruh muka bumi tidak membedakan segala bangsa dan kaum.
Dari penjelasan di atas, dapat
dipahami bahwa program utama dan perjuangan pokok segala usaha ialah pembinaan
akhlak/moral mulia. Ia harus ditanamkan dan ditegakkan kepada seluruh lapisan
dan tingkatan masyarakat, mulai dari tingkatan atas sampai lapisan masyarakat
terbawah. Pada lapisan atas itulah yang pertama-tama wajib memberikan teladan
yang baik kepada masyarakat dan rakyat, dan ini akan dapat terwujud manakala
para pemimpin berani memberikan contoh-contoh moral yang buruk.
Hubungan
Akhlak / Moral dengan Kehidupan Beragama
Jadi moral atau akhlak dalam Islam
sendiri tidak dapat dipisahkan dari kehidupan beragama. Karena nilai-nilai yang
tegas, pasti tetap tidak bisa berubah karena keadaan. Tempat dan waktu adalah
nilai-nilai yang bersumber dari agama.
Ari Ginanjar Agustian, dalam bukunya
ESQ (Emotional Spiritual Question), juga menjelaskan bahwa kekuatan
berpikir (manusia) memiliki potensi yang besar bagi hidup manusia. Di mana iman
yang dimaksud adalah keyakinan dalam hati, mengucapkan dalam lisan serta
mengamalkan perbuatan iman sebagai dasar rujukan dalam proses berpikir secara
aktual yang dimanifestasikan dalam bentuk amal sholeh yaitu suatu bentuk
aktivitas kerja, kreatifitas yang ditempah oleh semangat tauhid untuk
mewujudkan rahmatan lil alamin. Keseimbangan bagi alam dan segala isinya
(Agustian, 2002:66).
Hal ini sesuai dengan akhlak/moral
Islam yang merupakan suatu sikap dan laku perbuatan yang luhur, yang mempunyai
hubungan dengan dzat yang Maha Kuasa: Allah SWT. Bahwasanya akhlak Islam juga
adalah produk dari keyakinan atas kekuasaan dzat ke-Esa-an Tuhan, jadi Dia
adalah produk dari jiwa tauhid (Amin, 1997:9).
Meskipun akhlak Islam berdasarkan
Al-Qur’an dan As-Sunnah, bukan berarti Islam tidak memandang akal sebagai tolak
ukur perbuatan itu baik atau buruk. Peranan akal dalam mempertimbangkan baik
atau buruknya suatu perbuatan juga sangat besar. Karenanya perbuatan bisa
dinilai baik jika menurut pikirannya bahwa perbuatan itu baik, dan buruk atau
tercela jika melakukan perbuatan yang diputuskan akalnya buruk. Namun perlu
diketahui pula bahwa akal manusia hanya merupakan suatu kekuatan yang dimiliki
manusia untuk mencari kebaikan atau keburukan dan keputusannya. Bermula dari
pengalaman empiris kemudian diolah menurut kemampuan pengetahuannya. Oleh
karena itu, keputusan yang diberikan akal hanya bersifat spekulatif dan
subyektif.
Dapat disimpulkana bahwa moral/ akhlak
itu tidak dapat dipisahkan darai kehidupan beragama.
Comments
Post a Comment