Tugas Kuliah SASTRA BANDINGAN ANALISIS BANDINGAN KONDISI SOSIAL MASYARAKAT BALI SAAT MENGHADAPI KEMATIAN DALAM NOVEL TIBA-TIBA MALAM KARYA PUTU WIJAYA, CERPEN MATI SUNYI KARYA COK SAWITRI, CERPEN AWIG-AWIG KARYA ABU BAKAR, CERPEN RUMAH MAKAM KARYA PUTU FAJAR ARCANA
SASTRA BANDINGAN
ANALISIS BANDINGAN KONDISI SOSIAL MASYARAKAT BALI SAAT MENGHADAPI KEMATIAN DALAM NOVEL TIBA-TIBA MALAM KARYA PUTU WIJAYA, CERPEN MATI SUNYI KARYA COK SAWITRI, CERPEN AWIG-AWIG KARYA ABU BAKAR, CERPEN RUMAH MAKAM KARYA PUTU FAJAR ARCANA
Dirangkum oleh:
Warina NIM. 1612011069
KELAS 6B
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
2019
DAFTAR ISI
Cover................................................................................................................................................i
Daftar isi ……………………………………………………………………………………….....ii
Latar belakang …………………………………………………………………………….…… ..1
Rumusan masalah …………………………………………………………………………..…… 1
Analisis ………………………………………………………………………………………… ..2
Simpulan ………………………………………………………………………………….….….. 7
Daftar pustaka ………………………………………………………………………………..….. 8
Lampiran …………………………………………………………………………………….…... 9
A. LATAR BELAKANG
Menurut Chamamah Soeratno, Yasa (2012: 2), bahwa sastra merupakan sebuah sistem yang terangkat dari sebuah produk yang oleh masyarakat tertentu menamakannya sebagai sastra. Dari sekian banyak pendekatan dalam ilmu sastra ada yang disebut sebagai sastra bandingan.
Menurut Endraswara (2011) sastra bandingan adalah sebuah studi teks across cultural. Studi ini merupakan upaya interdisipliner, yakni lebih banyak memperhatikan hubungan sastra menurut aspek waktu dan tempat.
Dalam sastra bandingan, perbedaan dan persamaan yang ada dalam sebuah karya sastra merupakan objek yang akan dibandingkan. Remak (1990) menjelaskan bahwa dalam sastra bandingan yang dibandingkan adalah kejadian sejarah, pertalian karya sastra, persamaan dan perbedaan, tema, genre,style, perangkat evolusi budaya, dan sebagainya. Sastra bandingan juga membandingan karya sastra dari ruang dan waktu yang berbeda.
Sastrawan Indonesia dalam karyanya banyak menjadikan kematian sebagai tema besarnya. Menurut Boris Barternak, (dalam Hesti Partiwi) “semua filsafat merupakan usaha luar biasa untuk mengatasi masalah kematian dan takdir serta menjadi tema yang hampir selalu muncul dalam karya sastra. Bayak sastrawan yang memaparkan kematian serta mengaitkannya dengan adat setempat. Kematian dan adat masih jadi pro-kontra di dalam karya sastra. Kematian memang erat dengan yang namanya ritualisasi. Namun di berbagai kasus aturan adat sangat berperan terhadap pengadaan acara ritualisasi tersebut, secara realitas ritualisasi bukan hanya ada dalam kehidupan nyata melainkan dituangkan ke dalam karya sastra. Hal tersebut yang melatar belakangi peneliti utnuk melakukan sebuah perbandingan antara realitas dalam 4 buah karya yang memandang sebuah kematian dan ritualisasi adat. Keempat karya tersebut memiliki ide yang sama yaitu novel Tiba-Tiba Malam Karya Putu Wijaya dan Cerpen Mati Sunyi karya Cok Sawitri, cerpen Awig-Awig karya Abu Bakar, Cerpen Rumah Makam karya Putu Fajar Arcana. Keempat karya tersebut sama-sama merepresentasikan kesenjangan pada kematian yang terjadi di Bali.
B. RUMUSAN MASALAH
Bagaimana kondisi sosial di Bali saat menghadapi kematian?
C. ANALISIS
Kematian atau ajal adalah akhir dari kehidupan, semua makhluk hidup pada akhirnya akan mati secara permanen. Setelah kematian tubuh makhluk hidup mengalami pembusukan. Kematian juga mengumpulkan orang banyak untuk sebuah ritual. Ritual yang dilakukan tergantung adat setempat. Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan di suatu daerah. Apabila adat tidak dilaksanakan akan terjadi kerancuan yang menimbulkan sanksi tak tertulis oleh masyarakat setempat terhadap pelaku yang menyimpang. Hukum adat bagi pelaku yang menyimpang khususnya di daerah Bali sangat terlihat jelas dalam karya-karya yang ditulis oleh sastrawan Bali. Mereka merepresentasikan kesenjangan masyarakat terhadap para pelanggar adat untuk menghukum pelanggar adat pada setiap kehidupan pelanggar adat tersebut.
Kematian di ceritakan sebagai hal yang sangat menyedihkan khususnya bagi yang ditinggalkan. Bagi adat Bali kematian menuntut adanya ritualisasi dari adat, namun ada juga kematian yang dipandang rendah oleh adat setempat karena yang meninggal adalah orang yang pernah melanggar adat. Kesepakatan adat desa Bali mengenai hukuman terhadap kematian orang yang melakukan pelanggaran terhadap adat tampak pada kutipan.
“kalau dia tidak mau lagi ikut kerepotan desa, dia juga tidak boleh mempergunakan jalan desa, pancuran desa, dan kuburan desa. Keluarkan saja dia seperti dulu I Madra kita keluarkan karena tidak mau ikut kerja.”(Putu Wijaya, 2008:191).
Hal tersebut juga terdapat di dalam cerpen Putu Fajar Arcana.
“Apa yang pantas dicemburui dari keluargaku?"Susila terus membatin di sisi jenazah ayahnya. Bagaimana mungkin seorang bekas pejuang melawan Belanda, sampai menjadi mayat pun tetap diperlakukan secara hina. Larangan melakukan upacara jenazah di kuburan adat Banjar Sari, berarti jalan buntu. Banjar adat lain tak mungkin menerima jenazah I Raneh, karena ia bukan anggotanya.” ( Putu Fajar Arcana,RM.2).
Masyarakan desa juga tidak menerima jenazah I Raneh, karena dalam cerita semasa hidup I Raneh tidak ikut aturan adat. Hal tersebut membuat masyarakat marah dan memperlakukan I Raneh secara hina. Konflik itu menjadi sangat kental bahkan di dalam cerpen Cok Sawitri juga seperti itu.
“Bibi dan paman sudah lama tidak aktif di banjar. Begitu pun anak-anaknya. Tidak pernah lagi mengikuti berbagai kegiatan upacara dan sosial masyarakat desa. Kalaupun sesekali datang, mereka datang untuk berlibur. Mengurus rumah dan tanah warisan. Atau pulang seperti sekarang, di saat mati.” (Cok Sawitri, MS, 2).
Data tersebut memaksudkan tokoh yang tidak ikut kerepotan desa akan dianggap keluar dari desa
dan tidak bisa menggunakan pasilitas desa. Tokoh yang melanggar aturan desa akan dikucilkan oleh masyarakat desa.
Aturan tersebut di berlakukan agar masyarakat desa tidak melanggar aturan adat, dengan adanya hukuman bagi tokoh yang melanggar aturan adat akan membuat jera bagi pelanggar aturan tersebut.
Kesepakatan itu telah ada sebelumnya, bagi siapa yang melanggar dan tidak mengikuti kesepakatan tersebut maka akan dikucilkan oleh masyarakat desa. Sebelumnya jika ada peristiwa kematian seluruh masyarakat akan ikut berduka dan berbongong-bondong untuk melayat ke rumah duka. Namun keadaan yang terjadi pada tokoh yang berduka sangat berbeda, tokoh tersebut tidak dianggap di desa karena tokoh tersebut memiliki kesalahan yang tidak dimaafkan oleh masyarakat setempat.
Selain tidak diterima di desa tokoh tersebut juga dibantu dalam proses penguburan atau pengabenan. Menghukum tokoh yang melanggar adat sudah merupakan hal yang wajib lebih lanjut dipertgas dalam Anwar Efendi menjelaskan, “pada dasarnya, perkembangan suatu masyarakat yang diwujudkan melalui kebudayaan sangat tergantung pada faktor-faktor yang ada pada masyarakat itu sendiri. Salah satu faktor utamanya adalah manusianya. Tingkat pemikiran manusia yang secara langsung maupun tidak langsung terbentuk oleh interaksi dengan alam lingkungannya akan menentukan kedinamisan perkembangan masyarakat tersebut.”
Hal itu semakin jelas menunjukkan bahwa pada satu sisi kehidupan manusia sering terjadi masalah yang sulit untuk dipecahkan. Pada kondisi tertentu manusia dipertemukan dengan permasalahan yang di hinakan oleh masyarakat.
Pernyataan tersebut lebih diperjelas lagi di dalam kutipan.
“hanya ada beberapa tetangga yang berani datang membantu. Warga desa yang lain tahu apa yang terjadi namun tidak ada yang mau datang membantu, ini yang membuat Sunithi adik perempuan dari Sunatha jadi melongo seperti orang kehilangan akal.”
(Putu Wijaya, 2008:195).
Konflik itu juga ada di dalam cerpen Abu Bakar.
“Namun detik demi detik tak seorangpun beranjak dari duduknya. Mereka hanya datang menontoni wajah I Beruk yang menganga menghadap langit dirubung lalat”
(Abu Bakar, 2013:4)
Hal serupa juga terjadi di dalam Cerpen Cok Sawitri
“Tetapi hampir tiga hari ini, sejak jasad Bibi disemayamkan di rumah warisan, hanya beberapa warga desa saja yang datang melayat. Mereka yang melayat itu, aku tahu, bukan karena hormat pada Bibi, tetapi karena mengingat hubungan dengan keluarga yang lain. Mereka mengingat pertemuan dengan ayahku, dengan para paman juga bibi-bibi yang lain. Sedangkan warga lain memilih pura-pura tidak tahu-menahu” (Cok Sawitri, MS, 3).
Kutipan tersebut memkasudkan ketidak adilan warga desa terhadap tokoh yang menginngal dunia. Warga desa hanya menonton saja kejadian tersebut, mereka tidak perduli apa yang akan terjadi kepada tokoh tersebut.
Tokoh yang melanggar ketika mengalami kematian tidak akan diperdulikan, mereka hanya akan dilihat tanpa dibantu proses penguburan atau pengabenannya.
Hal serupa sudah menjadi aturan yang tidak boleh dilanggar oleh siapapun, merupakan aturan adat. Tokoh yang melanggar akan diasingkan, karena menurut cara pandang masyarakat Bali tokoh yang melanggar bukan lagi anggota masyaraka adat mereka.
Dalam Marco Manarisip Hukum Adat adalah hukum yang berlaku dan berkembang dalam lingkungan masyarakat di suatu daerah. Ada beberapa pengertian mengenai Hukum Adat. Menurut Hardjito Notopuro Hukum Adat adalah hukum tak tertulis, hukum kebiasaan dengan ciri khas yang merupakan pedoman kehidupan rakyat dalam menyelenggarakan tata keadilan dan kesejahteraan masyarakat dan bersifat kekeluargaan
Hukuman adat di Bali masih sangat erat diberlakukan, hal tersebut juga terlihat pada kutipan
“ Ini membuat Sunithi merasa sakit. Kini ia mengerti apa artinya dikucilkan. Karena kematian tidak bisa dihadapi sendirian seperti kerja di sawah.”
(Putu Wijaya, 2008:197). Konflik tersebut juga terdapat di dalam cerpen Putu Fajar Arcana.
“Sanksi ini terlalu berat. Tak mungkin bisa ditanggungkan oleh sesosok jenazah”. ( Putu Fajar Arcana,RM.3).
Kutipan kalimat tersebut memaksudkan kesedihan tokoh yang dikucilkan, anggapan tokoh tentang kematian yang tidak bisa dihadapi sendirian. Ada banyak hal yang menjadi konflik dalam kematian salah satunya ketidak hadiran sanak saudara tokoh yang meninggal.
Kematian memang tidak bisa dihadapi sendirian, karena ada berbagai hal yang perlu dipersiapkan. Misalnya dalam adat Bali. Adat Bali mewajibkan adanya ritualisasi pada setiap kematian yaitu ngaben. Ngaben yang merupakan upacara kremasi atau pembakaran jenazah di Bali. Acara pengabenan ini sudah menjadi kewajiban yang tidak bisa dilakukan sendirian orang, melainkan membutuhkan orang-orang tertentu untuk melancarkan acara tersebut.
“Sunithi sendiri merasa tidak mungkin lagi menunggu. Ia tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi esok. Kalau sampai mayat ibunya membusuk di rumah, ia akan tambah celaka. Ia harus berani bertindak memutuskan sesuatu. Menghadapi segalanya. Bila perlu dengan melawan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku. Karena tidak ada jalan lain.”
(Putu Wijaya, 2008:198).
"Bli, sekarang hari terakhir dalam perhitungan dewasa untuk melaksanakan penguburan. Saya atas nama ayah dan seluruh keluarga tetap meminta agar sanksi adat dicabut, agar kami bisa menguburkan jenazah ayah”.... ( Putu Fajar Arcana,RM.3)
Kutipan diatas memaksudkan bahwa proses penguburan sudah lambat hingga tokoh tidak tau lagi harus berbuat apa.
Dalam adat tertentu jasad memang harus cepat diurus.
“Sementara di kuburan tampak Subali. Diam-diam ia telah mengambil cangkul dari dapur. Dengan mulut bisu dalam kegelapan ia mulai menggali. Kunang-kunang berserakan di sekitarnya. Juga suara-suara serangga. Kuburan itu sunyi dan angker. Tetapi ia tidak takut. Ia menggali sebuah lubang untuk istrinya. Tepat waktu fajar, lubang itu telah rampung”.
(Putu Wijaya, 2008:206).
Hal serupa juga terdapat pada cerpen
"Inilah rumah makam yang saya bikin untuk ayah. Sewaktu kalian lelap”. ( Putu Fajar Arcana,RM.5).
Kutipan tersebut memaksudkan bahwa pihak tokoh menggalikan kuburan untuk tokoh yang meninggal.
Karena telah mengalami pembuangan desa tokoh yang meninggal tidak lagi diperdulikan.
D. SIMPULAN
Sastrawan Indonesia dalam karyanya banyak menjadikan kematian sebagai tema besarnya. Hal serupa dilakukan oleh 4 pengarang Bali dengan menjelaskan kesenjangan sosial oleh masyarakat Bali terhadap tokoh yang telah melanggar adat.
Berdasarkan hasil analisis dan teori, hukuman adat bagi yang melanggar aturan memang benar ada.
Kematian dan adat masih jadi pro-kontra di dalam karya sastra. Kematian memang erat dengan yang namanya ritualisasi. Namun di berbagai kasus aturan adat sangat berperan terhadap pengadaan acara ritualisasi tersebut, secara realitas ritualisasi bukan hanya ada dalam kehidupan nyata melainkan dituangkan ke dalam karya sastra. Sebuah perbandingan antara realitas dalam 4 buah karya yang memandang sebuah kematian dan ritualisasi adat. Keempat karya tersebut memiliki ide yang sama yaitu novel Tiba-Tiba Malam Karya Putu Wijaya dan Cerpen Mati Sunyi karya Cok Sawitri, cerpen Awig-Awig karya Abu Bakar, Cerpen Rumah Makam karya Putu Fajar Arcana. Keempat karya tersebut sama-sama merepresentasikan kesenjangan pada kematian yang terjadi di Bali.
DAFTAR PUSTAKA
affnew.uny.ac.id/upload/132086367/penelitian/Analisis+Perbandingan+Cerpen.doc
https://media.neliti.com/media/publications/3160-ID-eksistensi-pidana-adat-dalam-hukum-nasional.pdf.
Yasa, I Nyoman. 2012. Teori sastra dan Penerapannya. Bandung : Karya Putra Darmawati.
Kajian Teori Hakikat Sastra Bandingan.
Wijaya, Putu. 1994. Merdeka. Balai Pustaka: Jakarta
LAMPIRAN-LAMPIRAN
A. Data teridentifikasi
No
|
Data
|
1.
|
“kalau dia tidak mau lagi ikut kerepotan desa, dia juga tidak boleh mempergunakan jalan desa, pancuran desa, dan kuburan desa. Keluarkan saja dia seperti dulu I Madra kita keluarkan karena tidak mau ikut kerja.”(Putu Wijaya, 2008:191).
|
2. P
|
“hanya ada beberapa tetangga yang berani datang membantu. Warga desa yang lain tahu apa yang terjadi namun tidak ada yang mau datang membantu, ini yang membuat Sunithi adik perempuan dari Sunatha jadi melongo seperti orang kehilangan akal.”
(Putu Wijaya, 2008:195).
|
3.
|
“ia sudah berlari ke tukang pukul kentongan. Tetapi orang tua itu menolaknya tatkala yang meninggal adalah istri Subali.”
(Putu Wijaya, 2008:195).
|
4.
|
“ Ini membuat Sunithi merasa sakit. Kini ia mengerti apa artinya dikucilkan. Karena kematian tidak bisa dihadapi sendirian seperti kerja di sawah.”
(Putu Wijaya, 2008:197).
|
5.
|
“Sunithi sendiri merasa tidak mungkin lagi menunggu. Ia tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi esok. Kalau sampai mayat ibunya membusuk di rumah, ia akan tambah celaka. Ia harus berani bertindak memutuskan sesuatu. Menghadapi segalanya. Bila perlu dengan melawan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku. Karena tidak ada jalan lain.”
(Putu Wijaya, 2008:198).
|
6. M
|
“Di jalanan desa banyak orang duduk di pinggir jalan sambil membicarakan kematian itu. Tapi tak seorang pun berniat untuk menunjukkan hidungnya ke rumah Subali.”
(Putu Wijaya, 2008:198).
|
7.
|
“kalau kita bantu, nanti semua orang seperti dia. Memang enak tidak usah ikut-ikut kerja adat. Biar dia rasakan sekarang.”
(Putu Wijaya, 2008:200).
|
8.
|
“Sementara di kuburan tampak Subali. Diam-diam ia telah mengambil cangkul dari dapur. Dengan mulut bisu dalam kegelapan ia mulai menggali. Kunang-kunang berserakan di sekitarnya. Juga suara-suara serangga. Kuburan itu sunyi dan angker. Tetapi ia tidak takut. Ia menggali sebuah lubang untuk istrinya. Tepat waktu fajar, lubang itu telah rampung”.
(Putu Wijaya, 2008:206).
|
9. A
|
“Penguburan itu akhirnya diteruskan. Sunatha memaklumi apa yang terjadi. Timbul dalam hati Sunatha, kenapa istri dan mertuanya tidak hadir di acara pemakaman ibunya.”
(Putu Wijaya, 2008:213).
|
10.
|
“Ia terhenyak melihat ada sesuatu di depan halaman rumahnya, ia lantas membangunkan Weda yang tertidur dan mereka bersama-sama menyaksikan mayat ibu Sunithi yang dikubur kemarin tergeletak di halaman rumahnya”.
(Putu Wijaya, 2008:222).
|
11.
|
“Akibat dari perbuatan Subali yang sempat melanggar desa, maka ia tidak berhak lagi untuk mempergunakan milik desa. Termasuk tanah kuburan. Ia harus diakui. Ini sudah berlangsung bertahun-tahun terhadap siapa saja”.
(Putu Wijaya, 2008:224).
|
12.
|
“Sunatha menarik nafas panjang-panjang sekarang ia sedang diuji. Di belakang Sunatha, Subali mengekor seperti kerbau. Sunatha mewakili keluarganya mengakui kesalahannya, menyerahkan dirinya untuk diadili oleh desa dan memohon maaf kepada warga desa. Tutran kata yang keluar dari bibir Sunatha membuat para warga desa terdiam. Subali duduk bersila, menangis dan menundukkan kepalanya di tengah jalan. Pada saat itu muncul Ngurah. Pemuda itu langsung mendekati Sunatha dan menjabat tangannya. Mereka bersalam-salaman. Kemudian ngurah berbicara pada orang banyak, meminta para warga memaafkan kesalahan keluarga Subali. Kepala Desa kemudian datang juga. Orang tua itu tak banyak berkata-kata. Dia menenangkan orang-orang.”
(Putu Wijaya, 2008:225).
|
13.
|
“‘jadi, mari kita kuburkan dengan sepatutnya, istrinya yang tidak bersalah itu. Hari ini kita sudah banyak belajar, bagaimana caranya hidup bersama-sama sekarang.’
Orang-orang banyak mulai bergerak. Mula-mula mereka becakap sesamanya. Kemudian kepala desa memberikan perintah-perintah. Perdamaian itu mereka sambut dengan baik. Meskipun memang ada juga yang menggerutu. Hari itu juga, penguburan dilakukan dengan patut”.
(Putu Wijaya, 2008:226).
|
14.
|
Apa yang pantas dicemburui dari keluargaku?"Susila terus membatin di sisi jenazahayahnya. Bagaimana mungkin seorang bekas pejuang melawan Belanda, sampai menjadi mayat pun tetap diperlakukan secara hina. Larangan melakukan upacara jenazah di kuburan adat Banjar Sari, berarti jalan buntu. Banjar adat lain tak mungkin menerima jenazah I Raneh, karena ia bukan anggotanya. ( Putu Fajar Arcana,RM.2)
|
15.
|
Sementara saat yang baik untuk penguburan tinggal tiga hari lagi. Sempat terlintas dalam pikirannya membawa jenazah ayahnya ke Denpasar untuk dikremasi. ( Putu Fajar Arcana,RM.2-3)
|
16.
|
“Sanksi ini terlalu berat. Tak mungkin bisa ditanggungkan oleh sesosok jenazah”. ( Putu Fajar Arcana,RM.3)
|
17.
|
“Kakak beradik itu hanya bisa meratap di sisi jenazah ayah mereka”. ( Putu Fajar Arcana,RM.3)
|
18.
|
"Bli, sekarang hari terakhir dalam perhitungan dewasa untuk melaksanakan penguburan. Saya atas nama ayah dan seluruh keluarga tetap meminta agar sanksi adat dicabut, agar kami bisa menguburkan jenazah ayah”.... ( Putu Fajar Arcana,RM.3)
|
19.
|
“Dalam peti sosok tubuh I Raneh membeku. Tetesan air di bagian ujung peti menandakan es di dalamnya terus mencair” ( Putu Fajar Arcana,RM.5)
|
20.
|
"Inilah rumah makam yang saya bikin untuk ayah. Sewaktu kalian lelap”. ( Putu Fajar Arcana,RM.5)
|
21.
|
“terbukti memang. Saat kremasi ibuku berlangsung, tak satu krama banjarku nongol.”
(Abu Bakar, 2013:1)
|
22.
|
“Namun detik demi detik tak seorangpun beranjak dari duduknya. Mereka hanya datang menontoni wajah I Beruk yang menganga menghadap langit dirubung lalat”
(Abu Bakar, 2013:4)
|
23.
|
“jalanan desa begitu ramai. Semua pendududuk desa keluar rumah, tetapi cuma duduk-duduk di depan rumah masing-masing, hanya sebagai penonton prosesi ngaben bibiku”.
(Cok Sawitri, MS, 8)
|
24.
|
“Bibi dan paman sudah lama tidak aktif di banjar. Begitu pun anak-anaknya. Tidak pernah lagi mengikuti berbagai kegiatan upacara dan sosial masyarakat desa. Kalaupun sesekali datang, mereka datang untuk berlibur. Mengurus rumah dan tanah warisan. Atau pulang seperti sekarang, di saat mati.” (Cok Sawitri, MS, 2)
|
25.
|
“Tetapi hampir tiga hari ini, sejak jasad Bibi disemayamkan di rumah warisan, hanya beberapa warga desa saja yang datang melayat. Mereka yang melayat itu, aku tahu, bukan karena hormat pada Bibi, tetapi karena mengingat hubungan dengan keluarga yang lain. Mereka mengingat pertemuan dengan ayahku, dengan para paman juga bibi-bibi yang lain. Sedangkan warga lain memilih pura-pura tidak tahu-menahu” (Cok Sawitri, MS, 3
|
B. Sinopsis
Sinopsis Novel Tiba-Tiba Malam
Cerita ini diawali dengan upacara perkawinan Sunatha dilangsungkan dengan sederhana dan mendadak. Banyak orang heran dan bertanya-tanya, mengapa hal tersebut terjadi. Mempelai wanita adalah bunga desa, dipujikan kecantikan maupun kelakuannya. Di samping orang cemburu kenapa guru SMP yang gemar menyanyi lahu-lagu rakyat itu mampu merobohkan hati Utari, orang juga merasa belum waktunya desa kehilangan putrinya yang tercantik.
Di sisi lain, ada seorang pemuda kaya raya yang juga menyukai kembang desa tersebut. Hal tersebut memjadi buah bibir seluruh desa. Tanggapan miring mengenai guru ini pun mencuat ke permukaan. Satu hari setelah pernikahan, suami kembang desa langsung meninggalkan kembang desa untuk bertugas mengajar. Kedua pihak keluarga mengantarkan keberangkatan pahlawan tanpa tanda jasa itu ke pelabuhan. Setelah sang guru manaiki kapal para keluarga kembali ke desa. Kejadian aneh terjadi ketika kembang desa tiba-tiba berteriak bahwa dirinya telah di pelet. Hal tersebut terjadi di rumah mertua kembang desa dan mengegerkan para tetangga. Kedua keluarga yang telah berubah statusnya menjadi besan ini bertengkar mengambil langkah atas tindakan kembang desa. Mulai kejadian tersebut kehidupan kembang desa berubah. Ia akhirnya dekat dengan pemuda kaya dengan dalih akan mengobati penyakit kembang desa ke kota. Namun, kenyataan yang terjadi adalah mereka saling jatuh cinta hingga membuahkan seorang bayi. Pada pihak keluarga sang guru, mereka tidak menyangka kejadian memalukan keluarga itu terjadi. Hubungan dengan keluarga kembang desa telah hilang. Di saat yang sama, Bapak dari suami kembang desa sikapnya berubah semenjak kedatangan bule dari Australia. Ia dipengaruhi untuk menjadi agen perubahan di desa dengan melanggar hukum adat yang berlaku. Warga desa marah atas tindakan Bapak sang guru itu dan tidak menganggap keluarga pahlawan tanpa tanda jasa itu sebagai bagian dari desa. Akibat dari hal tersebut ketika ibu Sunatha meninggal dunia warga desa tidak membantu pemakaman mayat ibu Sunatha. Hanya ada beberapa tetangga yang berani datang membantu. Warga desa yang lain tahu apa yang terjadi namun tidak ada yang mau datang membantu, ini yang membuat Sunithi adaik perempuan dari Sunatha jadi melongo seperti orang kehilangan akal.
ia sudah berlari ke tukang pukul kentongan. Tetapi orang tua itu menolaknya tatkala yang meninggal adalah istri Subali ayah dari Sunatha. Dia bukan orang jahat, dia hanya melakukan tugasnya dengan baik. Sesuai dengan apa yang telah ditentukan oleh desa. Dia minta maaf sambil menyatakan rasa sungkan.
Sunithi putus asa, ia tidak bisa menyalahkan orang tua itu. Ia tidak dapat menyalahkan siapa-siapa. Ia tidak bermaksud menyalahkan keputusan desa. Ia juga tahu bahwa kesalahan ada di pihak keluarganya. Akan tetapi mayat ibunya harus segera dibereskan.
Subali hanya terbengong saja di sudut kamar. Ia memperhatikan mayat istrinya terbujur. Tapi ia tidak melakukan apa-apa. Barangkali ia benar-benar gila atau hanya malu.
Malam terasa sangat sepi dan menekan. Sunithi termangu-mangu. Beberapa orang yang datang menjenguk kemudian cepat-cepat kembali pulang. Yang tinggal hanya beberapa orang yang masih terpaut famili. Itu pun dengan perasaan cemas. Ini membuat Sunithi merasa sakit. Kini ia mengerti apa artinya dikucilkan. Karena kematian tidak bisa dihadapi sendirian seperti kerja di sawah.
Sunithi sendiri merasa tidak mungkin lagi menunggu. Ia tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi esok. Kalau sampai mayat ibunya membusuk di rumah, ia akan tambah celaka. Ia harus berani bertindak memutuskan sesuatu. Menghadapi segalanya. Bila perlu dengan melawan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku. Karena tidak ada jalan lain.
Di jalanan desa banyak orang duduk di pinggir jalan sambil membicarakan kematian itu. Tapi tak seorang pun berniat untuk menunjukkan hidungnya ke rumah Subali.
“biar dia rasa sekarang.”
“buat apa menolong orang bisa ngeleak. Biar dia kubur sendiri”
“kalau kita bantu, nanti semua orang seperti dia. Memang enak tidak usah ikut-ikut kerja adat. Biar dia rasakan sekarang.”
Entah kenapa tiba-tiba salah satu warga ada yang berfikir jernih.
“tapi nanti bagaimana? Siapa yang ngubur?”
“biar saja!”
“ah aku mau ke sana sekarang!”
Semua orang jadi melongo, tidak ada yang berminat untuk membantu.
Sunithi terdengar mengisak di depan pintu.
Sementara di kuburan tampak Subali. Diam-diam ia telah mengambil cangkul dari dapur. Dengan mulut bisu dalam kegelapan ia mulai menggali. Kunang-kunang berserakan di sekitarnya. Juga suara-suara serangga. Kuburan itu sunyi dan angker. Tetapi ia tidak takut.
Ia menggali sebuah lubang untuk istrinya. Tepat waktu fajar, lubang itu telah rampung.
Suatu hari Sunatha tiba di desa, hal bebrbeda sangat ia rasakan mulai dari berjalan menuju rumahnya, hatinya keras berdebar. Tiba-tiba Sunatha tertegun. Di sana, kelihatan sejumlah kecil orang sedang mengiring mayat ke kuburan. Tidak ada bunyi angklung. Tidak ada yang mengiringi. Hanya beberapa orang memikul. Begitu sederhana dan aneh. Dari balik-balik tembok, kelihatan kepala-kepala penduduk mengintip. Orang-orang yang berada di jalan, berhenti, lalu menonton iring-iingan yang berjalan dengan diam-diam itu. Sunata terkesima tatkala melihat di tengah-tengah orang trsebut terdapat adiknya beserte bapaknya. Ia cepat mengerti apa yang terjadi, dadanya tiba-tiba seperti ditebas. Sambil mengangkat koper yang tiba-tiba terasa ringan itu, ia berlari menghampiri. Iring-iringan itu berhenti melihat kedatangan Sunatha. Orang-orang yang dekat disitu sekarang terang-terangan menonton, memperhatikan dengan mata melotot. Tidak ada yang mersa kasihan. Mata mereka mengandung kebencian dan menaruh dendam.
Penguburan itu akhirnya diteruskan. Sunatha memaklumi apa yang terjadi. Timbul dalam hati Sunatha, kenapa istri dan mertuanya tidak hadir di acara pemakaman ibunya.
Hal itu menciptakan tanda tanya untuk Sunatha, akhirnya semuanya di ketahui oleh Sunatha dan Sunatha pergi menemui Ngurah dan langsung menghajarnya. Akibat dari perbuatan tersebut Sunatha juga tidak lagi disukai oleh warga, warga sangat empati dengan keadaan Ngurah yang sempat dihajar oleh Sunatha.
Malam hari dirumah Sunatha sunyi sekali. Sunithi dan Weda merawat Sunatha ang tergeletak di atas balai-balai. Subali mulai sehat kembali. Ia memandangi ank lanangnya itu. Ia mengurut-urut kakinya.
Fajar hampir tiba, Sunithi membuka pintu perlahan-lahan. Dingin udara di luar menerobos masuk, seperti anjing kecil yang manja menyeruduk ke seluruh ruangan. Sunithi mencium kembali bau aneh itu. Bulu kuduknya berdiri. Seakan-akan nyawa ibunya belum hendak berangkat dari rumah. Ia melemparkan segala kenangan pedih itu. Ditutupnya pintu itu kembali dengan hati-hati. Ia hendak menerjang air di dapur. Ia terhenyak melihat ada sesuatu di depan halaman rumahnya, ia lantas membangunkan Weda yang tertidur dan mereka bersama-sama menyaksikan mayat ibu Sunithi yang dikubur kemarin tergeletak di halaman rumahnya. Sunatha yang pada kala itu masih tertidur lantas terbangun dan ikut menyaksikan kejadian itu, emosinya memuncak ia langsung mengambil kapak di dapur dan hendak menghaja Ngurah kembali, karena dalam hatinya ia berfikir kejadian ini adalah ulah Sunata, Weda yang menyaksikan hal itu berusaha menahan amarah Sunatha dengan menahan Sunatha untuk pergi menemui Ngurah. Weda tidak berhasil menahan Sunatha, akhirnya Subali datang dengan suara lirih. Suntha akhirnya berhenti meronta. Sunatha tertegun. Kemudian ia melongok ke luar dan menyaksikan sepanjang jalan di depan pintu rumahnya, telah penuh orang dengan membawa senjata. Akibat dari perbuatan Subali yang sempat melanggar desa, maka ia tidak berhak lagi untuk mempergunakan milik desa. Trmasuk tanah kuburan. Ia harus diakui. Ini sudah berlangsung bertahun-tahun terhadap siapa saja.
Suntaha menarik nafas panjang-panjang sekarang ia sedang diuji. Di belakang Sunatha, Subali mengekor seperti kerbau. Sunatha mewakili keluarganya mengakui kesalahannya, menyerahkan dirinya untuk diadili oleh desa dan memohon maaf kepada warga desa. Tutran kata yang keluar dari bibir Sunatha membuat para warga desa terdiam. Subali duduk bersila, menangis dan menundukkan kepalanya di tengah jalan. Pada saat itu muncul Ngurah. Pemuda itu langsung mendekati Sunatha dan menjabat tangannya. Mereka bersalam-salaman. Kemudian ngurah berbicara pada orang banyak, meminta para warga memaafkan kesalahan keluarga Subali. Kepala Desa kemudian datang juga. Orang tua itu tak banyak berkata-kata. Dia menenangkan orang-orang.
“kawan-kawan,” anak ini telah meminta maaf, kita hormati dia, sebagai orang yang berkelakuan baik. Lihat, bapaknya pun telah menyesal. Benar kamu menyesal?”
Subali menganggukkan kepalanya.
“jadi, mari kita kuburkan dengan sepatutnya, istrinya yang tidak bersalah itu. Hari ini kita sudah banyak belajar, bagaimana caranya hidup bersama-sama sekarang.”
Orang-orang banyak mulai bergerak.
Mula-mula mereka becakap sesamanya. Kemudian kepala desa memberikan perintah-perintah. Perdamaian itu mereka sambut dengan baik. Meskipun memang ada juga yang menggerutu.
Hari itu juga, penguburan dilakukan dengan patut.
Judul : Sinopsis Mati Sunyi
Pengarang :Cok Sawitri
Cerita ini menceritakan tentang sebuah kematian seorang tokoh pejuang kemanusiaan. Namun sebagai tokoh masyarakat yang memperjuangkan keadaan nasib desa seharusnya sangat disegani dan dihormati oleh masyarakat. Namun sosok Bibi dalam cerpen mati sunyi ini berbeda. Sosok Bibi dalam cerpen ini dikenal sangat modern, independen, dan berjarak dengan adat bahkan sering mengkritik adat, hal tersebut yang membuat sosok Bibi tidak disegani oleh masyarakat desa.
Suatu hari menjelang acara ngaben atau kremasi Bibi harus mengikuti aturan adat istiadat di Bali. Namun karena sifat bibi yang tidak pernah memperjuangkan nasib desanya, Bibi selalu memperjuangkan nasib nasional membuat Bibi tidak disegani dan dipadang hanya orang angkuh yang tidak mau berbaur dan tidak pernah mengikuti kegiatan adat istiadat di desanya membuat masyarakat desa tidak perduli dengan Bibi sehingga saat kematiannya tidak ada masyarakat yang peduli akan Bibi.
Proses ngaben/kremasi tetap berjalan sesuai dengan adat istiadat namun tanpa adanya masyarakat desa dengan cara menyewa segara sesuatu yang diperlukan bahkan sampai menyewa para buruh bangunan untuk mengararak jazad Bibi ke pembakaran mayat. Yang menghadiri hanyalah keluarga Bibi dan tokoh-tokoh besar yang menghormati dan selalu segan akan perjuangan bibi. Para tamu undangan heran saat menghadiri acara ngeben tersebut, tidak ada masyarakat desa yang datang. Para masyarakat desa hanya menonton saat jazad Bibi diarak menuju ketempat pembakaran hal tersebut yang membuat para tamu heran bagaimana tidak sosok Bibi bagi mereka yang selalu memperjuangkan nasib desanya tidak disegani oleh masyarakat desanya sendiri. Sangat berbeda dengan cerita-cerita yang sudah dituangkan oleh bibi dalam buku-buku kisah desa yang dituturkan mengenai kuatnya tradisi gotong-royong, kasih sayang, harga menghargai yang diceritakan oleh Bibi.
Setelah proses kremasi berakhir satu persatu para tamu undangan meninggalkan kami sekeluarga di pemakaman hanya paman dan anak-anaknya yang meramaikan tempat kremasi Bibiku.
Rumah Makam
Cerpen: Putu Fajar Arcana
Sumber: Kompas, Edisi 03/17/2002
Ketika mendengar kabar ayahnya meninggal Susila tidak kaget. Ia masih sempat mengantar anak-anaknya ke sekolah. Bahkan, siang hari menjemputnya kembali. Susila memang sudah punya rencana untuk pulang kampung besok pagi, sembari menunggu istrinya mendapat cuti dari kantor. Namun, saat sepupunya, Mangku, menelepon lagi, ia benar-benar jadi kehabisan alasan.Sore itu juga Susila berangkat naik bus dari Terminal Pulo Gadung Jakarta ke Denpasar. Meski ia tahu suasana tahun baru akan membuat penyeberangan Ketapang-Gilimanuk padat, tapi ia merasa tak diberi pilihan lain. Kabar dari Mangku benar-benar membuat emosinya campur aduk. Ia hanya berpikir bagaimana secepatnya tiba di Banjar Sari, Gianyar. Kira-kira satu setengah jam perjalanan lagi ke arah timur Kota Denpasar.Sepanjang perjalanan terbayang perlakuan keji dan tidak adil yang harus diterima ayahnya, I Raneh. Bahkan sampai tubuhnya menjadi mayat, warga banjar tetap memperlakukannya secara tidak hormat. "Kasar dan kejam," pikirnya."Susila!" kata Kelihan Adat Banjar Sari Wayan Kroda, ketika Susila mendatangi rumahnya pagi hari. "Ini sudah hasil dari keputusan paruman banjar. Jadi, jangan salah paham." Wayan Kroda menuturkan keputusan banjar tersebut bukan tanpa alasan. Semasa hidupnya I Raneh dianggap selalu membangkang terhadap kesepakatan-kesepakatan yang diputuskan adat. Meski masih berusia belasan tahun, Wayan Kroda masih ingat ketika I Raneh menentang adat yang telah memutuskan untuk mencoblos Golkar. Waktu itu tahun 1971, ayah Kroda, I Kleteg yang menjabat sebagai kelihan adat di Banjar Sari.
"Kamu tentu masih ingat juga, bagaimana ayahmu menghasut warga hingga Golkar hampir kalah di Banjar kita ini. Meski telah kena sanksi adat, sampai tua ayahmu tak pernah berubah juga....""Sepanjang hidup, saya tidak pernah menilai ayah saya berbuat salah, hingga membuatnya pantas menerima sanksi berat, bahkan sampai jenazahnya!" potong Susila. Wayan Kroda terdiam. Seekor babi tiba-tiba merobohkan pohon pepaya di halaman rumahnya. Batang pepaya itu menjulur sampai ke teras di mana Kroda dan Susila sedang bicara. "Luh, Luh...!" Wayan Kroda memanggil anak perempuannya dengan suara keras, "Ikat babinya. Jangan dibiarkan liar begitu. Nanti kamu kena denda!
"Hasil paruman adat memutuskan melarang penguburan ataupun pembakaran jenazah I Raneh di kuburan milik banjar. Warga menilai dosa I Raneh selama hidupnya sudah terlalu banyak. Selain menghasut warga menentang Golkar, Raneh juga pernah melarang kelompok seni Cak Banjar Sari untuk pentas di hotel-hotel di Nusa Dua kalau tidak dihargai secara pantas. "Jika hotel-hotel itu masih mengangkut kita dengan truk, kita tidak akan mau pentas. Saya juga akan mundur dari kelompok kalau hotel tidak membayar kita dengan harga tinggi," tegas I Raneh sewaktu masih hidup. Sebagai kelihan adat wajah I Kleteg seperti ditampar di depan warganya sendiri. Ia merasa sudah susah payah mencari hubungan ke ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia) Denpasar agar kelompok Cak Banjar Sari bisa main di hotel. "Bisa pentas di hotel berbintang saja sudah luar biasa. Ongkos tidak penting! Selama ini kita hanya pentas di desa-desa, lain rasanya kalau nanti main di depan turis asing. Itu kebanggaan," ungkap I Kleteg. Tetapi, I Raneh tetap berpendirian bahwa dosen-dosen ASTI itu telah meracuni otak I Kleteg.
Padahal, hasil pentas itu sebagian besar dinikmati para brooker seni itu. Perdebatan-perdebatan macam itu akhirnya berakibat pada pengucilan keluarga I Raneh. Sampai kini, seluruh keturunannya, termasuk Susila, dianggap tak hirau lagi pada kewajibannya selaku warga banjar. Kebetulan keempat anak I Raneh pergi merantau ke luar Banjar Sari. Sejak zaman I Kleteg sampai Wayan Kroda menjadi kelihan adat, keluarga I Raneh dianggap perusak tatanan adat yang ada. Sejak tinggal di Jakarta, Susila mau tak mau harus melepaskan keanggotaannya sebagai warga adat Banjar Sari. Tuntutan profesi membuatnya harus pindah. Tetapi, aturan di Banjar Sari mengharuskan ia tetap sebagai warga adat, karena darahnya tumpah di desa pusat kerajinan itu. Karena tinggal jauh, Susila tak mungkin lagi mengikuti kegiatan-kegiatan adat. Ia tahu, Wayan Kroda sejak lama mendiskreditkan keluarganya. Dendam Kroda, dendam turunan. Ia hanya memakai tangan adat untuk membalas rasa dendam ayahnya kepada ayah Susila. "Bagaimana ini bisa terjadi? Adat dibikin begitu kaku, bahkan digunakan untuk menghantam orang-orang yang tidak disukai. Ini hanya dendam pribadi. Apa yang pantas dicemburui dari keluargaku?"Susila terus membatin di sisi jenazah ayahnya. Bagaimana mungkin seorang bekas pejuang melawan Belanda, sampai menjadi mayat pun tetap diperlakukan secara hina. Larangan melakukan upacara jenazah di kuburan adat Banjar Sari, berarti jalan buntu. Banjar adat lain tak mungkin menerima jenazah I Raneh, karena ia bukan anggotanya. Kalau toh diizinkan, itu pasti melalui berbagai prosedur yang rumit dan memakan waktu. Sementara saat yang baik untuk penguburan tinggal tiga hari lagi.
Sempat terlintas dalam pikirannya membawa jenazah ayahnya ke Denpasar untuk dikremasi. Ia ingat di Pemakaman Mumbul ada krematorium milik umat Budha. Tetapi, ide itu dipatahkan oleh ketiga adiknya. Ayah mereka harus mendapatkan penguburan dengan upacara yang layak sebagai seseorang yang pernah berjasa. Sikap keras yang ditunjukkan I Raneh selama ini, hanya karena ia tak ingin melihat Banjar Sari dieksploitasi untuk kepentingan politik dan modal. Tetapi, sikap itu dianggap merugikan I Kleteg dan sebagian warga. Sanksi ini terlalu berat. Tak mungkin bisa ditanggungkan oleh sesosok jenazah. Susila tetap menganggap bahwa sanksi adat itu sungguh tidak adil terhadap ayahnya. Perundingan dengan ketiga adiknya tidak menemukan jalan keluar. Kakak beradik itu hanya bisa meratap di sisi jenazah ayah mereka. Sesungguhnya banyak warga bersimpati pada keluarga Susila. Mereka secara bisik-bisik mencoba mencari jalan keluar dari kebuntuan sanksi adat itu.
Namun, tetap saja warga tak berani datang untuk sekadar mengucapkan rasa simpati atau turut berduka cita ke rumah Susila. Mereka juga takut terkena sanksi: turut dikucilkan! Menurut perhitungan dewasa, hari ini hari terakhir untuk melangsungkan upacara penguburan atau pembakaran jenazah. Kendati sudah lama tinggal di kota seperti Jakarta, Susila sangat menghormati perhitungan dewasa itu. Pengetahuan itu satu-satunya warisan ayahnya yang masih ia jalankan. Meski harus mengorbankan harga dirinya, untuk kesekian kalinya Susila mendatangi rumah Wayan Kroda. "Bli, sekarang hari terakhir dalam perhitungan dewasa untuk melaksanakan penguburan. Saya atas nama ayah dan seluruh keluarga tetap meminta agar sanksi adat dicabut, agar kami bisa menguburkan jenazah ayah....
" Wayan Kroda tak segera menyahut. Ia melihat babi peliharaan istrinya tetap liar. Bahkan, kali ini hampir merusak seluruh tanaman di halaman rumahnya. Lagi-lagi ia berteriak memanggil anak perempuannya agar segera mengikat babi itu." Sudah berapa kali pula saya katakan, ini keputusan paruman adat. Saya tidak bisa mengubahnya sekehendak hati. Kalau kamu mau sanksi itu diubah, mintakan kepada seluruh warga. Jangan datang lagi kepada saya. Perkara di mana jenazah itu dikuburkan, bukan lagi urusan adat. Itu mutlak urusan keluargamu," tiba-tiba kata Wayan Kroda dengan tekanan suara keras. Susila merasa percuma berunding dengan orang yang memendam rasa dendam turunan. Bahkan, dendam itu barangkali akan tetap melekat sampai cucu-cucu mereka kelak. Ia merasa rasa benci senantiasa mendatangkan pikiran sesat.
Wayan Kroda sedang disesatkan rasa bencinya. Sebagai kelihan adat, seseorang yang dituakan dalam adat, tak pantas ia berlaku begitu kepada warganya. Aturan adat disepakati untuk menciptakan harmoni tatanan warga. Bahkan, harmoni warga dengan makhluk lain di sekitarnya. Bukan, dijadikan alat untuk menekan dan menghukum orang-orang yang berseberangan secara pribadi. Pagi itu juga Susila berangkat ke Denpasar dengan maksud menemui Gubernur. Seorang petugas protokol memberitahu bahwa Gubernur sedang sibuk menerima tamu dari Jakarta. "Tamu itu sangat penting. Jadi, Bapak harus mengajukan surat permohonan dulu. Itu pun belum tentu bisa langsung menghadap. Paling tidak harus menunggu seminggu," ujar petugas lelaki itu. "Barangkali saya bisa dipertemukan dengan pimpinan lain. Wakil atau siapa sajalah. Ini soal penting dan sangat mendesak.""Semua pimpinan juga sedang mendampingi Bapak. Jadi, bikin saja surat dulu.""Ini soal jenazah! Jadi, saya harap bisa bertemu Gubernur.""Lebih baik berurusan dengan polisi, kalau menyangkut penemuan jenazah," kata petugas itu. Sempat terlintas dalam benak Susila untuk mendatangi pimpinan DPRD.
Tapi, niat itu ditepisnya. Ia tahu pasti, seperti yang biasa terjadi wakil rakyat pun akan menampung keluhannya lantas dirundingkan dulu dengan eksekutif. Padahal, ia berharap menemukan jalan keluar hari itu juga, agar jenazah ayahnya tidak terkatung-katung.Tepat seminggu jenazah I Raneh terbaring. Selama itu tak seorang warga banjar pun yang datang menjenguk. Hanya beberapa kerabat jauh yang turut menyertai Susila menjaga sosok tubuh ayahnya. Tetapi, setiap dimintai pertimbangan rata-rata mereka tak punya jalan keluar. Mereka umumnya mengatakan penyelesaian upacara jenazah sangat tergantung pada banjar adat. "Jadi, kalau banjar adat mengenakan sanksi, bisa berbuat apa kita ini?" kata seorang kerabat Susila. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu makin membuat kusut pikiran Susila.
Ia berbaring di dekat ayahnya. Ia tarik napasnya dalam-dalam lalu diembus seperti melenguh. Ada sesak dalam dadanya. Susila sama sekali tak menduga begitu mudahnya warga adat dihasut untuk berbuat keji. Sebagai orang yang lama merantau, Susila berpikir bahwa adatlah yang selama ini menjadi benteng terakhir di banjar dari berbagai gempuran kehidupan modern. Sebelumnya ia begitu yakin bahwa serbuan dunia modern menjadi satu-satunya penghancur tatanan adat di Banjar Sari. Derasnya arus modal yang membawa peradaban baru, akan mengubah kondisi sosial dan ekonomi. Saat itulah secara bersamaan terjadi perubahan dalam cara berpikir dan pola prilaku masyarakat.
"Dan, I Kleteg serta Wayan Kroda merupakan pion-pion pembawa kehancuran di Banjar Sari? Mereka hanya mementingkan keuntungannya sendiri dengan berdalih menjaga keutuhan adat....ah." Susila mengembuskan asap rokoknya jauh-jauh. Ia ingin mengeluarkan seluruh sesak yang memenuhi rongga dadanya. Asap itu berpadu dengan kepulan asap puluhan dupa dari altar di sebelah kiri jenazah.
Bergulung-gulung mencucuk langit-langit rumah. Di luar gerimis menghantarkan suasana makin cepat jadi gelap. Dalam peti sosok tubuh I Raneh membeku. Tetesan air di bagian ujung peti menandakan es di dalamnya terus mencair. Tubuh lelaki berusia 78 tahun itu mengeras seperti menjadi satu zat dengan tulang. Seluruh cairan tubuhnya pelan-pelan larut ke dalam tetesan bongkahan es.Saat hendak mengisi kembali bongkahan es ke dalam peti itulah, seorang kerabat tiba-tiba berteriak mengatakan bahwa jenazah I Raneh hilang. Beberapa kerabat lain menuduh bahwa warga adat makin berbuat kejam. Wayan Kroda dituding menjadi otak pencurian jenazah. "Ia keberatan, makin lama jenazah berada di rumah, bau tak sedap makin merayap ke rumah-rumah warga," kata seorang kerabat liannya.
"Tapi, bukankah bau tak sedap itu bersumber dari dalam rumahnya sendiri?" kata yang lainnya lagi. Meski jumlahnya tak begitu banyak para kerabat itu sepakat untuk mendatangi rumah Wayan Kroda. Mereka ingin menuntut keadilan. Perbuatan Wayan Kroda dianggap sudah keterlaluan: terhadap jenazah pun ia tak urung berbuat keji. Ketika melewati pintu depan, para kerabat itu dikagetkan dengan ratapan Susila di sebuah rumah kecil di halaman. Di dalam rumah itu terdapat gundukan yang baru saja digali. "Inilah rumah makam yang saya bikin untuk ayah. Sewaktu kalian lelap, aku diam-diam membuatnya. Ayo semua berdoa. Jangan pikirkan lagi soal sanksi adat itu. Penyelesaian cara inilah yang rupanya tengah diinginkan oleh Wayan Kroda...! Ayo duduk dan berdoa, mengapa masih bengong, tidakkah kalian ingin mendoakan agar ayahku tenang? Ayo......" Susila memanggil ketiga adiknya sembari membagi-bagikan dupa. Pagi hari kegemparan melanda seluruh Banjar Sari. Kabar tentang Susila membuat rumah makam di halaman rumahnya tersebar cepat. Pagi itu juga Way an Kroda menggelar paruman warga adat. Mereka merembugkan sanksi baru yang harus ditimpakan kepada keluarga Susila. Selain itu warga juga merencanakan menggelar upacara pembersihan desa. Tindakan Susila dianggap telah membuat desa kotor.
C. Cover Novel

Depan Belakang
Belakang
Lampiran Novel Tiba-Tiba Malam Karya Putu Wijaya di hard copy yang sudah dikumpul
Comments
Post a Comment