tugas Sastra Bandingan
SASTRA BANDINGAN
Dirangkum oleh:
Warina NIM. 1612011069
KELAS 6B
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
2019
A. I DENTITAS DATA /CERITA :
1. Judul : Tiba-Tiba Malam
2. Keterangan : Novel
3. Pengarang : Putu Wijaya
4. Tahun terbit : 2005
5. Penerbit : Jakarta: Kompas
6. Jumlah halaman : 236
7. Foto cover (depan belakang ) :

Depan Belakang
Belakang
B. RINGKASAN CERITA
Sinopsis Novel Tiba-Tiba Malam (Putu Wijaya)
Cerita ini diawali dengan upacara perkawinan Sunatha dilangsungkan dengan sederhana dan mendadak. Banyak orang heran dan bertanya-tanya, mengapa hal tersebut terjadi. Mempelai wanita adalah bunga desa, dipujikan kecantikan maupun kelakuannya. Di samping orang cemburu kenapa guru SMP yang gemar menyanyi lahu-lagu rakyat itu mampu merobohkan hati Utari, orang juga merasa belum waktunya desa kehilangan putrinya yang tercantik.
Di sisi lain, ada seorang pemuda kaya raya yang juga menyukai kembang desa tersebut. Hal tersebut memjadi buah bibir seluruh desa. Tanggapan miring mengenai guru ini pun mencuat ke permukaan. Satu hari setelah pernikahan, suami kembang desa langsung meninggalkan kembang desa untuk bertugas mengajar. Kedua pihak keluarga mengantarkan keberangkatan pahlawan tanpa tanda jasa itu ke pelabuhan. Setelah sang guru manaiki kapal para keluarga kembali ke desa. Kejadian aneh terjadi ketika kembang desa tiba-tiba berteriak bahwa dirinya telah di pelet. Hal tersebut terjadi di rumah mertua kembang desa dan mengegerkan para tetangga. Kedua keluarga yang telah berubah statusnya menjadi besan ini bertengkar mengambil langkah atas tindakan kembang desa. Mulai kejadian tersebut kehidupan kembang desa berubah. Ia akhirnya dekat dengan pemuda kaya dengan dalih akan mengobati penyakit kembang desa ke kota. Namun, kenyataan yang terjadi adalah mereka saling jatuh cinta hingga membuahkan seorang bayi. Pada pihak keluarga sang guru, mereka tidak menyangka kejadian memalukan keluarga itu terjadi. Hubungan dengan keluarga kembang desa telah hilang. Di saat yang sama, Bapak dari suami kembang desa sikapnya berubah semenjak kedatangan bule dari Australia. Ia dipengaruhi untuk menjadi agen perubahan di desa dengan melanggar hukum adat yang berlaku. Warga desa marah atas tindakan Bapak sang guru itu dan tidak menganggap keluarga pahlawan tanpa tanda jasa itu sebagai bagian dari desa.
“kalau dia tidak mau lagi ikut kerepotan desa, dia juga tidak boleh mempergunakan jalan desa, pancuran desa, dan kuburan desa. Keluarkan saja dia seperti dulu I Madra kita keluarkan karena tidak mau ikut kerja”. Akibat dari hal tersebut ketika ibu Sunatha meninggal dunia warga desa tidak membantu pemakaman mayat ibu Sunatha. Hanya ada beberapa tetangga yang berani datang membantu. Warga desa yang lain tahu apa yang terjadi namun tidak ada yang mau datang membantu, ini yang membuat Sunithi adaik perempuan dari Sunatha jadi melongo seperti orang kehilangan akal.
ia sudah berlari ke tukang pukul kentongan. Tetapi orang tua itu menolaknya tatkala yang meninggal adalah istri Subali ayah dari Sunatha. Dia bukan orang jahat, dia hanya melakukan tugasnya dengan baik. Sesuai dengan apa yang telah ditentukan oleh desa. Dia minta maaf sambil menyatakan rasa sungkan.
Sunithi putus asa, ia tidak bisa menyalahkan orang tua itu. Ia tidak dapat menyalahkan siapa-siapa. Ia tidak bermaksud menyalahkan keputusan desa. Ia juga tahu bahwa kesalahan ada di pihak keluarganya. Akan tetapi mayat ibunya harus segera dibereskan.
Subali hanya terbengong saja di sudut kamar. Ia memperhatikan mayat istrinya terbujur. Tapi ia tidak melakukan apa-apa. Barangkali ia benar-benar gila atau hanya malu.
Malam terasa sangat sepi dan menekan. Sunithi termangu-mangu. Beberapa orang yang datang menjenguk kemudian cepat-cepat kembali pulang. Yang tinggal hanya beberapa orang yang masih terpaut famili. Itu pun dengan perasaan cemas. Ini membuat Sunithi merasa sakit. Kini ia mengerti apa artinya dikucilkan. Karena kematian tidak bisa dihadapi sendirian seperti kerja di sawah.
Sunithi sendiri merasa tidak mungkin lagi menunggu. Ia tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi esok. Kalau sampai mayat ibunya membusuk di rumah, ia akan tambah celaka. Ia harus berani bertindak memutuskan sesuatu. Menghadapi segalanya. Bila perlu dengan melawan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku. Karena tidak ada jalan lain.
Di jalanan desa banyak orang duduk di pinggir jalan sambil membicarakan kematian itu. Tapi tak seorang pun berniat untuk menunjukkan hidungnya ke rumah Subali.
“biar dia rasa sekarang.”
“buat apa menolong orang bisa ngeleak. Biar dia kubur sendiri”
“kalau kita bantu, nanti semua orang seperti dia. Memang enak tidak usah ikut-ikut kerja adat. Biar dia rasakan sekarang.”
Entah kenapa tiba-tiba salah satu warga ada yang berfikir jernih.
“tapi nanti bagaimana? Siapa yang ngubur?”
“biar saja!”
“ah aku mau ke sana sekarang!”
Semua orang jadi melongo, tidak ada yang berminat untuk membantu.
Sunithi terdengar mengisak di depan pintu.
Sementara di kuburan tampak Subali. Diam-diam ia telah mengambil cangkul dari dapur. Dengan mulut bisu dalam kegelapan ia mulai menggali. Kunang-kunang berserakan di sekitarnya. Juga suara-suara serangga. Kuburan itu sunyi dan angker. Tetapi ia tidak takut.
Ia menggali sebuah lubang untuk istrinya. Tepat waktu fajar, lubang itu telah rampung.
Suatu hari Sunatha tiba di desa, hal bebrbeda sangat ia rasakan mulai dari berjalan menuju rumahnya, hatinya keras berdebar. Tiba-tiba Sunatha tertegun. Di sana, kelihatan sejumlah kecil orang sedang mengiring mayat ke kuburan. Tidak ada bunyi angklung. Tidak ada yang mengiringi. Hanya beberapa orang memikul. Begitu sederhana dan aneh. Dari balik-balik tembok, kelihatan kepala-kepala penduduk mengintip. Orang-orang yang berada di jalan, berhenti, lalu menonton iring-iingan yang berjalan dengan diam-diam itu. Sunata terkesima tatkala melihat di tengah-tengah orang trsebut terdapat adiknya beserte bapaknya. Ia cepat mengerti apa yang terjadi, dadanya tiba-tiba seperti ditebas. Sambil mengangkat koper yang tiba-tiba terasa ringan itu, ia berlari menghampiri. Iring-iringan itu berhenti melihat kedatangan Sunatha. Orang-orang yang dekat disitu sekarang terang-terangan menonton, memperhatikan dengan mata melotot. Tidak ada yang mersa kasihan. Mata mereka mengandung kebencian dan menaruh dendam.
Penguburan itu akhirnya diteruskan. Sunatha memaklumi apa yang terjadi. Timbul dalam hati Sunatha, kenapa istri dan mertuanya tidak hadir di acara pemakaman ibunya.
Hal itu menciptakan tanda tanya untuk Sunatha, akhirnya semuanya di ketahui oleh Sunatha dan Sunatha pergi menemui Ngurah dan langsung menghajarnya. Akibat dari perbuatan tersebut Sunatha juga tidak lagi disukai oleh warga, warga sangat empati dengan keadaan Ngurah yang sempat dihajar oleh Sunatha.
Malam hari dirumah Sunatha sunyi sekali. Sunithi dan Weda merawat Sunatha ang tergeletak di atas balai-balai. Subali mulai sehat kembali. Ia memandangi ank lanangnya itu. Ia mengurut-urut kakinya.
Fajar hampir tiba, Sunithi membuka pintu perlahan-lahan. Dingin udara di luar menerobos masuk, seperti anjing kecil yang manja menyeruduk ke seluruh ruangan. Sunithi mencium kembali bau aneh itu. Bulu kuduknya berdiri. Seakan-akan nyawa ibunya belum hendak berangkat dari rumah. Ia melemparkan segala kenangan pedih itu. Ditutupnya pintu itu kembali dengan hati-hati. Ia hendak menerjang air di dapur. Ia terhenyak melihat ada sesuatu di depan halaman rumahnya, ia lantas membangunkan Weda yang tertidur dan mereka bersama-sama menyaksikan mayat ibu Sunithi yang dikubur kemarin tergeletak di halaman rumahnya. Sunatha yang pada kala itu masih tertidur lantas terbangun dan ikut menyaksikan kejadian itu, emosinya memuncak ia langsung mengambil kapak di dapur dan hendak menghaja Ngurah kembali, karena dalam hatinya ia berfikir kejadian ini adalah ulah Sunata, Weda yang menyaksikan hal itu berusaha menahan amarah Sunatha dengan menahan Sunatha untuk pergi menemui Ngurah. Weda tidak berhasil menahan Sunatha, akhirnya Subali datang dengan suara lirih. Suntha akhirnya berhenti meronta. Sunatha tertegun. Kemudian ia melongok ke luar dan menyaksikan sepanjang jalan di depan pintu rumahnya, telah penuh orang dengan membawa senjata. Akibat dari perbuatan Subali yang sempat melanggar desa, maka ia tidak berhak lagi untuk mempergunakan milik desa. Trmasuk tanah kuburan. Ia harus diakui. Ini sudah berlangsung bertahun-tahun terhadap siapa saja.
Suntaha menarik nafas panjang-panjang sekarang ia sedang diuji. Di belakang Sunatha, Subali mengekor seperti kerbau. Sunatha mewakili keluarganya mengakui kesalahannya, menyerahkan dirinya untuk diadili oleh desa dan memohon maaf kepada warga desa. Tutran kata yang keluar dari bibir Sunatha membuat para warga desa terdiam. Subali duduk bersila, menangis dan menundukkan kepalanya di tengah jalan. Pada saat itu muncul Ngurah. Pemuda itu langsung mendekati Sunatha dan menjabat tangannya. Mereka bersalam-salaman. Kemudian ngurah berbicara pada orang banyak, meminta para warga memaafkan kesalahan keluarga Subali. Kepala Desa kemudian datang juga. Orang tua itu tak banyak berkata-kata. Dia menenangkan orang-orang.
“kawan-kawan,” anak ini telah meminta maaf, kita hormati dia, sebagai orang yang berkelakuan baik. Lihat, bapaknya pun telah menyesal. Benar kamu menyesal?”
Subali menganggukkan kepalanya.
“jadi, mari kita kuburkan dengan sepatutnya, istrinya yang tidak bersalah itu. Hari ini kita sudah banyak belajar, bagaimana caranya hidup bersama-sama sekarang.”
Orang-orang banyak mulai bergerak.
Mula-mula mereka becakap sesamanya. Kemudian kepala desa memberikan perintah-perintah. Perdamaian itu mereka sambut dengan baik. Meskipun memang ada juga yang menggerutu.
Hari itu juga, penguburan dilakukan dengan patut.
Sinopsis Cerpen Mati Sunyi (Cok Sawitri)
Cerita ini menceritakan tentang sebuah kematian seorang tokoh pejuang kemanusiaan. Namun sebagai tokoh masyarakat yang memperjuangkan keadaan nasib desa seharusnya sangat disegani dan dihormati oleh masyarakat. Namun sosok Bibi dalam cerpen mati sunyi ini berbeda. Sosok Bibi dalam cerpen ini dikenal sangat modern, independen, dan berjarak dengan adat bahkan sering mengkritik adat, hal tersebut yang membuat sosok Bibi tidak disegani oleh masyarakat desa.
Suatu hari menjelang acara ngaben atau kremasi Bibi harus mengikuti aturan adat istiadat di Bali. Namun karena sifat bibi yang tidak pernah memperjuangkan nasib desanya, Bibi selalu memperjuangkan nasib nasional membuat Bibi tidak disegani dan dipadang hanya orang angkuh yang tidak mau berbaur dan tidak pernah mengikuti kegiatan adat istiadat di desanya membuat masyarakat desa tidak perduli dengan Bibi sehingga saat kematiannya tidak ada masyarakat yang peduli akan Bibi.
Proses ngaben/kremasi tetap berjalan sesuai dengan adat istiadat namun tanpa adanya masyarakat desa dengan cara menyewa segara sesuatu yang diperlukan bahkan sampai menyewa para buruh bangunan untuk mengararak jazad Bibi ke pembakaran mayat. Yang menghadiri hanyalah keluarga Bibi dan tokoh-tokoh besar yang menghormati dan selalu segan akan perjuangan bibi. Para tamu undangan heran saat menghadiri acara ngeben tersebut, tidak ada masyarakat desa yang datang. Para masyarakat desa hanya menonton saat jazad Bibi diarak menuju ketempat pembakaran hal tersebut yang membuat para tamu heran bagaimana tidak sosok Bibi bagi mereka yang selalu memperjuangkan nasib desanya tidak disegani oleh masyarakat desanya sendiri. Sangat berbeda dengan cerita-cerita yang sudah dituangkan oleh bibi dalam buku-buku kisah desa yang dituturkan mengenai kuatnya tradisi gotong-royong, kasih sayang, harga menghargai yang diceritakan oleh Bibi.
Setelah proses kremasi berakhir satu persatu para tamu undangan meninggalkan kami sekeluarga di pemakaman hanya paman dan anak-anaknya yang meramaikan tempat kremasi Bibiku.
C. LATAR BELAKANG
Menurut Chamamah Soeratno, Yasa (2012: 2), bahwa sastra merupakan sebuah sistem yang terangkat dari sebuah produk yang oleh masyarakat tertentu menamakannya sebagai sastra. Dari sekian banyak pendekatan dalam ilmu sastra ada yang disebut sebagai sastra bandingan.
Menurut Endraswara (2011) sastra bandingan adalah sebuah studi teks across cultural. Studi ini merupakan upaya interdisipliner, yakni lebih banyak memperhatikan hubungan sastra menurut aspek waktu dan tempat.
Dalam sastra bandingan, perbedaan dan persamaan yang ada dalam sebuah karya sastra merupakan objek yang akan dibandingkan. Remak (1990) menjelaskan bahwa dalam sastra bandingan yang dibandingkan adalah kejadian sejarah, pertalian karya sastra, persamaan dan perbedaan, tema, genre,style, perangkat evolusi budaya, dan sebagainya. Sastra bandingan juga membandingan karya sastra dari ruang dan waktu yang berbeda.
Hal inilah yang tercakup dalam penelitian yang dilakukan. Konsep sastra bandingan tersebut menjadi pembanding antara karya sastra yang dibandingakan. Dua karya tersebut yakni Novel Tiba-Tiba Malam (Putu Wijaya) dan Cerpen Mati Sunyi (Cok Sawitri)Kedua karya tersebut memiliki pandangan dan ide yang hampir sama, terkait dengan tokoh serta ide yang tertuang di dalam dua karya tersebut.
Pada kesempatan kali ini peneliti akan membahas dua buah karya yang memiliki potensi ide yang sama dengan menggunakan sebuah konsep sastra bandingan, dalam hal ini karya yang dibahas terkait dengan kematian di Bali. Adat bali yang masih dengan kental terpatri pada masyarakat Bali, hal tersebut diangkat oleh kedua pengarang yakni Putu Wijaya dan Cok Sawitri.
D. RUMUSAN MASALAH
Bagaimana hukum adat yang masih kental dan kematian di Bali?
E. PEMBAHASAN
1. Hukum adat yang masih kental dan kematian di Bali.
Penelitian ini membahas perbandingan karya yang berjudul Rumah Sederhana dan Lingkungan Sehat (Vivi Wulandari) dan Penataan Pekarangan Rumah (Muntazar).
Pengkajian unsur yang terdapat pada dua tersebut dimaksudkan untuk memahami ide dalam dua karya tersebut yang mengangkat topik terkait kematian. Alasan yang mendasari kajian adalah adanya persamaan j ide yang dipaparkan dalam kedua karya tersebut. Pada cerita pertama membahas tengtang tumbuhan yang digunakan untuk berbagai kepentingan hidup. Selain menambah perekonomian keluarga tumbuhan juga sangat bermanfaat untuk kesehatan.
Kutipan karya 1.
“Pak Firdhaus mendiringan pagar bambu di pekarangan rumahnya dan ditanami berbagai pohon-pohon seperti bluntas, tomat, kacang panjang, terung, bayam, jagung dan kangkung. Tujuan dari penanaman pohon-pohon tersebut selain untuk menambah penghasilan keluarga Pak Firdhaus juga untuk mencegah erosi yang disebabkan air hujan. Daun-daun tanaman juga mengeluarkan zat asam yang sangat dibutuhkan dan amat berguna bagi pernafasan manusia.”
Pada kutipan tersebut, pengarang merefsentasikan tumbuhan sebagai sesuatu yang digunakan untuk pengobatan. Seorang pengarang memaparkan bagaimana peran tumbuhan pada kelangsungan hidup manusia pada umumnya, dengan menjadikan tumbuhan dan usaha yang sederhana dijadikan sebagai sebuah ide yang diangkat oleh pengarang.
Kutipan karya 2.
Pak Kadir ini sangat cermat untuk mengatur semua itu di halaman sebelah kanan rumahnya ada banyak tumbuh-tumbuhan yang ditanamnya seperti padi, dan palawija namun, disebelah kiri rumahnya ia merencanakan untuk mengisi tanaman yang bermanfaat sebagai obat-obatan seperti Jahe, Kunyit, Cocor bebek, Temu lawak, dan Pepaya selain itu, Pak Kadir juga akan menanam buah-buahan disekeliling halaman sebelah kanan seperti buah Mangga,Durian, dan Rambutan. Tapi selain hasil buah-buahan dan tumbuh-tumbuhan diatas Pak Kadir mampu membayar SPP dan alat-alat sekolah anaknya melalui penjualan sayur-sayuran.
Sama hal nya dengan kutipan 1, kutipan 2 juga membahas mengenai peran tumbuhan. Kedua pengarang yakni Vivi Wulandari dan Muntazar, sama-sama memiliki ide yang sama yang dituangkan dalam karya, dengan kedua ide tersebut mereka memaparkan sebuah konsep tentang bagaimana tumbuhan dijadikan sebagai simbol untuk memberikan kenyamanan pada kehidupan, pada kedua karya tersebut penulis memiliki harapan-harapan kepada pembaca tentang hal sederhana namun akan sangat memiliki banyak manfaat pada kehidupan. Dalam hal ini tumbuhan menjadi simbol tolak ukur untuk selalu dijaga.
Dari penelitian ini menghasilkan adanya kesamaan ide yang diangkat oleh kedua pengarang yang menggunakan simbol tumbuhan. Dari pandangan kedua pengarang tumbuhan merupakan salah satu simbol yang mutlak harus dijaga.
F. MODEL PEMIKIRAN
Berdasarkan cerita 1 dan 2 peneliti mengambil model pemikiran terkait dengan kedua cerita yang membahas ide yang sama yakni tentang manfaat tumbuhan untuk kelestarian hidup. Karena hal itu, untuk melestarikan hidup yang diungkapkan oleh penulis cerita yakni mengungkapkan salah satu ide tentang keadaan keluarga yang memanfaatkan tumbuhan sebagai salah satu cara untuk mengajak manusia berfikir akan pentingnya tumbuhan di sekitar kita.
G. DAFTAR RUJUKAN
Wulandari, Vivi. 2008. Rumah Sederhana dan Lingkungan Sehat. Jakarta:PT INTIMEDIA CIPTA NUSANTARA
Yasa, I Nyoman. 2012. Teori sastra dan Penerapannya. Bandung : Karya Putra Darmawati.
Kajian Teori Hakikat Sastra Bandingan. https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://eprints.uny.ac.id/8495/3/BAB%2520208205241009.pdf&ved=2ahUKEwjFgvD32Z_iAhUU4o8KHfPQCpYQFjAAegQIAhAB&usg=AOvVaw2HfF36JL0n9gO2S1bx-SjU
H. LAMPIRAN
1. DATA TERIDENTIVIKASI
2. DATA TERSELEKSI
Lampiran 1
Data teridentifikasi
No
|
Kutipan dan Kode/ halaman
|
1.
|
“kalau dia tidak mau lagi ikut kerepotan desa, dia juga tidak boleh mempergunakan jalan desa, pancuran desa, dan kuburan desa. Keluarkan saja dia seperti dulu I Madra kita keluarkan karena tidak mau ikut kerja”.
(AAR 67 Putu, 2005)
|
2. P
|
Pak Firdhaus membuat pagar pekarangan yang terdiri dari pekarangan bambu. Di sepanjang pagar anyaman bambu ditanami berbagai pohon-pohon, antara lain daun bluntas, tomat, kacang panjang, terung, bayam, jagung, dan kangkung.
(RSR 24Wulandari, 2008).
|
3.
|
Pagar hidup selain untuk menjaga keamanan, juga menghasilkan sayur-mayur, baik untuk keperluan makan kita sendiri, maupun untuk kita jual kepasar.
(RSR 26Wulandari, 2008).
|
4.
|
“ dan akar-akar tanaman juga berguna untuk mencegah erosi, “ tambah Pak Firdhaus. Jika turun hujan maka akar-akar tanaman itu akan mencegah tanah itu menjadi longsor, sehingga tanah pekarangan tidak terbawa oleh air hujan.”
(RSR 28Wulandari, 2008).
|
5.
|
“daun-daun tanaman mengeluarkan zat asam yang sangat dibutuhkan dan amat berguna bagi pernafasan manusia.
(RSR 30Wulandari, 2008).
|
6. M
|
Malah di samping untuk lauk sendiri, Bu Aini dapat pula menjualnya ke pasar.
(RSR 32Wulandari, 2008).
|
7.
|
Rumah Pak Kadir ini dikatakan memiliki halaman rumah yang sangat luas dan dia merencanakan untuk mengisi di selah-selah pekarangannya itu berbagai jenis tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan. LED.
|
8.
|
Pak kadir mengisi pagar disekeliling rumahnya di bagian depan, samping kiri, belakang dan samping kanan. LED.
|
9. A
|
Pak Kadir ini sangat cermat untuk mengatur semua itu di halaman sebelah kanan rumahnya ada banyak tumbuh-tumbuhan yang ditanamnya seperti padi, dan palawija namun, disebelah kiri rumahnya ia merencanakan untuk mengisi tanaman yang bermanfaat sebagai obat-obatan seperti Jahe,Kunyit,Cocor bebek, Temu lawak, dan Pepaya. LED
|
10.
|
Pak Kadir mampu membayar SPP dan alat-alat sekolah anaknya melalui penjualan sayur-sayuran. LED
|
Lampiran 2
Rumusan Masalah
|
Data Terklasifikasi
|
1. Bagaimana pemanfaatan tumbuhan sebagai pelestarian lingkungan untuk kelangsungan hidup
|
Pak Firdhaus membuat pagar pekarangan yang terdiri dari pekarangan bambu. Di sepanjang pagar anyaman bambu ditanami berbagai pohon-pohon, antara lain daun bluntas, tomat, kacang panjang, terung, bayam, jagung, dan kangkung.
“ dan akar-akar tanaman juga berguna untuk mencegah erosi, “ tambah Pak Firdhaus. Jika turun hujan maka akar-akar tanaman itu akan mencegah tanah itu menjadi longsor, sehingga tanah pekarangan tidak terbawa oleh air hujan.”
“daun-daun tanaman mengeluarkan zat asam yang sangat dibutuhkan dan amat berguna bagi pernafasan manusia.
Malah di samping untuk lauk sendiri, Bu Aini dapat pula menjualnya ke pasar.
|
Pak Kadir ini sangat cermat untuk mengatur semua itu di halaman sebelah kanan rumahnya ada banyak tumbuh-tumbuhan yang ditanamnya seperti padi, dan palawija namun, disebelah kiri rumahnya ia merencanakan untuk mengisi tanaman yang bermanfaat sebagai obat-obatan seperti Jahe, Kunyit, Cocor bebek, Temu lawak, dan Pepaya. LED
Pak Kadir mampu membayar SPP dan alat-alat sekolah anaknya melalui penjualan sayur-sayuran.
|
Comments
Post a Comment